Berkaca & City of God (Cidade de Deus)

Setiap pagi atau malam sebelum tidur, saya berkaca di sebuah cermin besar yang menempel manja pada meja rias saya. Meja rias itu sebetulnya tak pantas menyandang predikatnya, karena di atasnya lebih banyak tumpukan buku-buku, kertas dan dvd yang asal taruh daripada lipstick, rouge dkk. yang sebenarnya lebih berhak ada di sana. Tetapi, tentu saja, selalu ada pembersih wajah, kapas atau tissue dan tidak ketinggalan mainan Jason dan Joshua yang digeletakan seenaknya saja di sana-sini di dalam kamar saya, termasuk di atas meja rias super berantakan tersebut.

Dan semalam, ketika saya sedang berkaca sambil membersihkan wajah dengan krim pembersih wajah yang saya harapkan dapat juga sekaligus mengecilkan pori-pori saya, melicinkan kerutan-kerutan kecil yang mulai dengan nyaman menggoreskan tanda usia pada wajah cantik ini, serta tentu saja mengangkat kotoran dan lapisan kulit mati sehingga kulit wajah dapat tidur dalam kondisi bersih, maka saya menemukannya tergeletak di dalam keranjang rotan tempat alat-alat kecantikan yang sedianya di alokasikan, tapi.. tentu tidak, alat-alat kecantikan entah ada dimana-mana sedangkan yang bukan peralatan mempercantik diri justru ada di sana. Dvd itu buktinya, juga tergeletak di sana, dan seperti sebuah magnet ia menggiring saya untuk memutarnya kembali.

City of God atau Cidade de Deus, dirilis tahun 2002, dapat di lihat trailernya di Youtube:

City of God bercerita tentang kehidupan disebuah proyek perumahan tempat orang-orang yang berasal dari lingkungan-lingkungan kumuh dan para tunawisma ditempatkan atau diisolasi dari pusat kota Rio de Janairo. Proyek ini dinamakan Cidade de Deus atau City of God. Film ini diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama, ditulis oleh Paulo Lin. Novel itu dibuat berdasarkan kisah nyata kehidupan seorang fotografer Brazil bernama Wilson Rodrigues. Baik Paulo Lin maupun Wilson Rodrigues pernah tinggal di Cidade de Deus.

Di tempat itu, kematian akibat kekerasan dalam bentuk pertikaian antar geng adalah hal yang sudah biasa. Kekerasan adalah jalan hidup satu-satunya yang konsisten dari hari ke hari. Kehancuran adalah hal yang konsisten. Dari tahun ke tahun begitulah akhir kehidupan anak-anak mudanya, umur mereka begitu singkat dikarenakan madat obat bius, mabuk-mabukan dan perkelahian antar geng.

If you run you’re dead…if you stay, you’re dead again. Period.
If you run they’ll catch you.If you stay they’ll eat you.
Fight and you’ll never survive….. Run and you’ll never escape.
15 miles from paradise…one man will do anything to tell the world everything.
Based on a true story.
Drugs Guns Music Love
If you run it will get you. If you stay it will eat you.

Ngeri sekali tagline film ini. Dari tagline tersebut kita bisa langsung menebak bahwa ini bukanlah sebuah film yang “mudah.” Film kelam ini menghadapkan saya pada sebuah realitas bahwa di sebuah tempat tertentu, ada kehidupan yang begitu hitam, pekat likat, yang tidak pernah saya masuki dan terlampau jauh dari situasi kehidupan normal yang saya alami sehari-hari, sehingga membayangkannya pun saya tak mungkin bisa, menjadikannya sebagai mimpi terburuk saya pun tidak akan pernah terjadi. Saya tidak memiliki cukup memori tentang apa itu kekerasan yang sesungguhnya dan bagaimana seseorang ditembak dan tergeletak mati di tengah jalan dengan otak terburai atau dada tercabik karena ditembus peluru oleh sebab-sebab yang seringkali tidak jelas.

Film yang sangat grafik ini mempertontonkan kekerasan yang brutal. Kejahatan yang bengis. Sekaligus perjuangan manusia untuk tetap bertahan hidup sehingga ia memakan manusia lain, atau mereka yang meskipun berada dalam lingkungan yang tak manusiawi lagi tetap mempertahankan hati nurani dan menjadi seorang manusia. Sebuah film yang sangat menakjubkan kalau tidak bisa dikatakan indah. Dua macam sisi saling bertolak belakang dapat dikawinkan. Dan, persilangan yang nampaknya absurd itu berhasil bersanding, saling melengkapi, berbaur, seperti alang-alang yang tak bisa dipisahkan dari gandum.

Film ini dibuka dengan adegan segerombolan anak-anak laki-laki belasan tahun yang bersenjata api sedang mengejar seekor ayam yang sedianya akan dipotong namun berhasil melepaskan diri dari penjagalan. Walaupun kenyataan bahwa mereka membawa senjata membuat saya bergidik, tetapi ada sesuatu yang menarik, yaitu, mereka kelihatan sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Boys will be boys, sangat jelas bahwa anak-anak tersebut sesungguhnya sedang bermain, namun cara mereka bermain jauh berbeda dengan permainan anak-anak normal di kompleks yang normal dalam kehidupan yang saya anggap normal seperti kehidupan yang saya jalani sehari-hari.

Hal yang parahnya dengan otak saya adalah, saya jadi membayangkan bagaimana kalau Jason dan Joshua adalah salah satu dari anak-anak tersebut, karena cara mereka mengejar ayam dan keriangan anak-anak itu dalam perburuan mereka sangat mirip sekali dengan gaya si kakak dan si adik kalau sedang ngerjain korban mereka si Ba’ba’, anjing kami yang malang itu. Bedanya, senjata kakak dan adik adalah keranjang untuk meletakkan baju-baju kotor yang terbuat dari nilon dan tujuan mereka adalah untuk mengurung Ba’ba’ di dalam keranjang tersebut, sedangkan anak-anak tersebut tujuannya sudah pasti hendak menembak si ayam dengan senjata api sungguhan!

Berangkat dari awal pengejaran ayam itulah penonton bertemu dengan dua pemeran utama dalam film ini, yaitu Rocket (Buscape) , yang menjadi narator dalam film ini, dan Lil Ze, gangster paling berpengaruh di dalam film ini. Gara-gara ikut-ikutan mengejar ayam, walaupun tidak bersama-sama dengan gerombolan gangster tersebut, Rocket menemukan dirinya berada tepat di tengah-tengah, antara barisan gangster bersenjata dan pasukan polisi bersenjata, lalu penonton dibawa dengan cepat flashback ke tahun 60-an di awal-awal masa proyek Cidade de Deus sedang dilaksanakan.

Bila di awal film penonton melihat kompleks perumahan tersebut telah menjadi sebuah kompleks kumuh dan suram, maka kini penonton akan melihat proyek perumahan tersebut dalam situasi yang jauh berbeda, masih begitu banyak tanah-tanah yang terbuka dan rumah-rumah petak yang tersusun teratur. Anak-anak bermain bola di sebuah lapangan kosong, dan situasinya terasa normal seperti diperkampungan-perkampungan biasa, atau kompleks perumahan pinggiran yang tetangga-tetangga saling kenal satu dengan yang lainnya. Namun jangan terkecoh dengan suasana yang kelihatannya normal dan aman tersebut. Sebab benih-benih kekerasan sudah tumbuh sejak masa yang nampak normal itu.

Di tahun 60-an ini, sekelompok anak muda yang menamakan kelompok mereka sebagai The Tender Trio, yaitu, Shaggy, Goose dan Clipper yang selalu dikuntit oleh 2 orang anak kecil bernama Lil Dice dan Benny, mereka inilah bandit-bandit kecil yang sering melakukan penodongan-penodongan dengan senjata api untuk merampok para pemilik bisnis lokal. Namun, oleh kebanyakan penduduk di kompleks tersebut, mereka dipandang sebagai semacam Robin Hood, sebab mereka selalu membagikan sebagian hasil rampokan mereka dengan penduduk lokal di kompleks tersebut, akibatnya mereka pun mendapatkan perlindungan dari warga. Ada sebuah adegan kelompok ini merampok truk penjual gas lalu para warga sekitar juga turut ambil bagian dalam aksi tersebut dengan mengambili tabung-tabung gas yang berada di atas truk tersebut, sementara Lil Dice menendangi supir truk. Lalu baik warga maupun perampok sama-sama lari berhamburan ketika mobil polisi datang.

Nasib The Tender Trio segera berubah setelah mereka mengikuti rencana Li’l Dice untuk merampok sebuah motel, namun berakhir dengan pembunuhan massal yang dilakukan oleh Li’l Dice yang memang haus darah tersebut. Kejadian tersebut membuat mereka dicari-cari oleh polisi, dan masa kejayaan kelompok tersebut berakhir dengan bertobatnya Clipper dan menjadi pastor, Shaggy tertembak mati oleh polisi ketika sedang berusaha melarikan diri dengan kekasihnya, dan Goose ditembak mati oleh Li’l Dice ketika ia merampas uang milik Li’l Dice dan Benny agar dapat melarikan diri keluar dari daerah tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, Li’l Dice yang telah mengubah namanya menjadi Li’l Ze bersama sahabatnya Benny, menjadi gangster yang paling disegani di daerah tersebut. Tidak puas dengan hanya menjadi gangster yang merampok, Li’l Ze merambah dunia penjualan narkotik, sebab menyadari bahwa dari sanalah mereka dapat memperoleh uang. Li’l Ze menyingkirkan semua lawan-lawannya kecuali Carrot, karena Carrot berteman dengan Benny. Benny adalah satu-satunya orang yang pendapatnya didengar oleh Li’l Ze dan satu-satunya orang yang dapat mencegah Li’l Ze melakukan hal-hal yang terlampau buruk. Walaupun Li’l Ze sangat bernafsu untuk membunuh Carrot dan mengambil alih daerah kekuasaan Carrot, namun Benny dapat mencegahnya melakukan hal tersebut. Maka, beberapa waktu lamanya, dibawah kekuasaan Li’l Ze dan Carrot, maka daerah kumuh tersebut mengalami masa-masa damai dan aman. Siapa yang merasa terganggu dapat melaporkan kasusnya kepada Li’l Ze dan akan dibereskannya, seperti ketika ia memberi pelajaran kepada kelompok anak-anak kecil yang diberi nama The Runtz, dengan menembak dan kemudian membunuh salah satu dari anak-anak tersebut sebagai peringatan karena anak-anak tersebut berulangkali melakukan penjarahan-penjarahan di toko2 lokal.

Namun nampaknya hal buruk dan terlampau buruk selalu saja harus terjadi. Seperti segala sesuatu yang salah akan menjadi semakin salah, maka demikianlah situasi di kompleks kumuh tersebut. Benny tertembak mati dalam sebuah pesta perpisahan karena ia hendak berhenti dari kehidupan sebagai gangster dan hidup tenang dengan kekasihnya, dan sejak saat itu Li’l Ze menjadi lepas kontrol, tidak ada lagi yang dapat mengendalikan atau mempengaruhinya kecuali keinginannya untuk menguasai daerah tersebut.

Perang antar geng pun terjadi, dimulai dengan Li’l Ze melakukan pemerkosaan terhadap kekasih Ned, lalu dilanjutkannya dengan membunuh paman dan saudara Ned. Ned seorang bekas tentara yang tadinya adalah pria baik-baik, tidak terlibat dalam kelompok manapun, akhirnya bergabung dengan kelompok Carrot untuk balas dendam kepada Li’l Ze.

Sepanjang kisah yang penuh dengan kekerasan ini, penonton dipandu oleh Rocket atau Buscape, yang menjadi narator, sekaligus kita melihat perjalanan kehidupan Rocket yang terlalu penakut untuk bergabung dengan gang manapun, serta kesukaannya memotret yang kemudian menghantarnya bekerja disebuah surat kabar sebagai pengantar koran, agar suatu saat kelak ia dapat berprofesi menjadi seorang fotografer.

Bila membandingkan bagaimana Rocket menjalani kehidupannya, yang tidak terlepas dari realitas kesehariannya karena ia berdomisili di daerah yang sama dengan Li’l Ze, Benny, dan setiap anak muda yang tinggal di City of God tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kecintaan Rocket terhadap fotografi dan akal sehatnya yang membuat ia memelihara rasa takut itulah yang telah melepaskannya dari benang kusut yang membelenggu kehidupan sebagian besar anak muda di daerah tersebut.

Akhir dari kehidupan mereka yang memilih jalan kekerasan sudah hampir dapat dipastikan berakhir dalam kekerasan juga. Walaupun kematian bukanlah sesuatu yang dapat dihindari oleh manusia, namun bagaimana cara seseorang mengantarkan nyawanya merupakan sebuah pilihan.

Film ini sukses membuat saya merenungkan apa yang pernah diceritakan oleh seseorang. Dia lahir, dan tumbuh besar di sebuah daerah perumahan kumuh Jakarta. Di sana siklus kehidupan berjalan mirip dengan apa yang digambarkan dalam film City of God, generasi berikut dan berikutnya lagi terseret dalam pusaran yang sama karena setiap hari dalam kehidupan mereka hanya contoh-contoh itulah yang mereka lihat. Obat bius, mabuk-mabukan, perjudian, seks bebas yang membuat anak-anak tidak tahu dengan jelas siapa ayah mereka, kekerasan dalam rumah tangga, kematian anak-anak dan bayi karena kekurangan gizi atau diterlantarkan oleh orangtuanya, pengangguran, putus sekolah, kemiskinan, pelacuran adalah kenyataan hidup yang bersentuhan langsung dengan realita mereka.

Ketika kembali berkaca, saya menyadari begitu dangkalnya kekuatiran-kekuatiran saya tentang hal-hal yang terlampau remeh, kerutan halus di wajah, kurang kencangnya otot-otot lengan. Ya Tuhan, apalah itu semua dibandingkan dengan masalah-masalah nyata antara hidup dan mati yang dialami oleh mereka yang tinggal di kantong-kantong kumuh perkotaan seperti Cidade de Deus itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s