Bentuk & Tujuan, Julie & Julia

I am crazy in love with..

Movies, yeah, saya penggemar film yang gila banget sebab saya bisa menonton film yang saya sukai sampai berulang-ulang, ga ada habis-habisnya, tapi itu dulu… sekarang ini sudah terlalu jarang menonton film sejak saya jatuh cinta habis-habisan dengan…

Pet Society, yeah, saya penggemar pet society yang gila banget, yang bisa bermain pet society dari pagi sampai malam tanpa makan dan minum atau berkomunikasi dengan orang lain, sampai-sampai saya lupa dengan cinta pertama saya yaitu…

Buku-buku, yeah, saya penggemar buku yang gila banget sebab uang saya kebanyakan habis untuk membeli buku, buku apa saja yang menarik perhatian saya, entah itu buku tentang masakan, novel atau tentang paper craft, dekorasi ruangan, dan beragam buku-buku yang memenuhi lemari buku di kamar saya hingga bertumpuk-tumpuk tidak karuan, bahkan adik ipar saya pernah bertanya apakah buku-buku itu sempat saya baca, haha, padahal sih buku-buku itu ada di sana justru karena sudah saya baca.

Saat ini, saya ingin kembali kepada cinta pertama saya. Cinta pertama? Yaps, cinta pertama. Masih ingat kepada cinta pertama? Beruntunglah mereka-mereka yang bahkan diberi anugerah menikahi cinta pertama dan tentu saja cinta sejatinya. Sayangnya, walau cinta semacam itu tak pernah habis-habisnya dibicarakan dan ditulis orang, tetapi bukan yang itu yang saya maksudkan di sini.

Cinta pertama saya adalah membaca, karena sejak kecil ayah saya sudah membiasakan anak-anaknya untuk membaca. Setiap pulang kembali ke Balikpapan setelah selesai tugas ke Jakarta, papa selalu membawa pulang satu koper penuh buku-buku cerita dan ilmu pengetahuan anak-anak. Lima Sekawan, Sapta Siaga, novel-novel klasik Shakspear yang sudah disesuaikan untuk anak-anak, dan masih banyak lagi. Saya melahapnya tanpa ampun! Dalam jangka waktu satu minggu saja buku-buku tersebut sudah selesai dibaca. Sayangnya, saya tidak dibiasakan untuk membuat resensi buku-buku yang sudah saya baca tersebut. Dengan semakin bertambahnya umur dan menurunnya kemampuan untuk melahap buku secara marathon, juga saya menemukan diri saya menyerap dan menghubung-hubungkan bagian-bagian yang saya baca, sehingga ada suatu pengolahan internal tentang apa yang sudah saya baca.

Sebelum saya masuk sungguh-sungguh lebih dalam ke pembahasan tentang bagaimana saya mau kembali kepada cinta pertama saya, ada satu hal lagi yang merupakan juga kekasih hati saya, yaitu menulis. Entah itu puisi, atau cerita-cerita pendek, atau apa saja yang dapat saya tulis dan deskripsikan dengan kata-kata. Salah satu wujud dari kecintaan itu, atau lebih tepatnya gairah tersebut adalah menulis di blog.

..namun..

Telah sekian lama saya merasa tidak menemukan bentuk untuk menulis di blog, dan saya adalah tipe orang yang akan membahas dan memikirkan itu semua sampai saya menemukan jawabannya, sama seperti saya menulis tentang menulis yang membuat gemas ituuu… Walaupun ada yang mengatakan bahwa pencarian jauh lebih penting daripada menemukan, namun saya merasa pada suatu titik tertentu harus ada penemuan, sebab bila tidak, sia-sialah pencarian.

….demikianlah, sampai pada suatu hari dua minggu yang lalu, saya berhasil juga menonton Julie & Julia..

Masukan yang saya peroleh dari film Julie & Julia, membuat saya merenungkan soal bentuk dan tujuan.

Film Julie & Julia yang dirilis pada tahun ini, tahun 2009, adalah sebuah kisah nyata yang diangkat dari sebuah buku berjudul, Julie and Julia: 365 Days, 524 Recipes, 1 Tiny Apartment Kitchen (2005) yang kemudian diubah judulnya menjadi: Julie and Julia: My Year of Cooking Dangerously seperti yang tertera pada gambar di atas tersebut. buku ini diangkat dari tulisan di blog seorang blogger, Julie Powel, yang membuat sebuah blog untuk menceritakan rekaman perjalanan masak-memasaknya selama 365 hari memasak 536 resep dari sebuah buku resep masakan yang ditulis oleh Julia Child, seorang ikon masyarakat Amerika.

Julie Powel membuat blog tersebut karena adanya rasa tidak puas dengan pekerjaannya dan hidupnya, sementara ketika memasak ia merasa memperoleh kepuasan batin tersendiri. selain itu, ia merasa dirinya tidak pernah benar-benar fokus dan berhasil mencapai sesuatu atau mengerjakan sesuatu hingga tuntas sehingga ia menantang dirinya sendiri untuk mengerjakan proyek yang dinamakannya TheJulie/Julia Project tersebut.

Seperti biasa, keingintahuan saya membawa saya mencari blog Julie Powel, saya ingin tahu bagaimana bentuk blog Julie Powel, apakah memang benar-benar ada atau sudah tidak ada lagi. ternyata blog itu masih ada dan entri terakhir yang ditulis oleh Julie Powel di blog The Julie/Julia Project mencatat tentang kematian Julia Child diusia 91 tahun, tanggal penulisan entri tersebut adalah 13 Agustus 2004, aha, nomor favorite saya, 13! Itulah entri terakhirnya di blog tersebut. sedangkan karir menulis Julie Powel masih berjalan, buku keduanya berjudul: Cleaving: a Story of Marriage, Meat, and Obsession, akan dirilis pada bulan Desember tahun ini, saya tidak tahu apakah ketika saya menulis saat ini, buku tersebut sudah dirilis atau belum.

Film Julie & Julia sendiri adalah sebuah film yang inspiratif bagi saya, karena itu tadi, film tersebut membuat saya berpikir tentang bentuk dan tujuan. bagi saya, adalah sangat mengagumkan bahwa Julie Powel, out of boredom dan perasaan tidak berbahagia, justru menciptakan sebuah karya yang menarik. Sedangkan Julia Child adalah sosok yang luarbiasa dan dimainkan dengan sangat luarbiasa juga oleh Meryll Streep. Julia Child belajar memasak diusia 37 tahun, ketika ia mendampingi suaminya yang bekerja di Kedubes AS saat ditugaskan di Perancis, ia belajar memasak karena ia sangat suka makan dan ia ingin memasakan makanan-makanan lezat untuk suaminya.

Kedua wanita ini, Julie & Julia, berangkat dari motivasi dan situasi yang berbeda. Julie hidup dalam kebosanan, sementara Julia begitu bersemangat dalam hidupnya. Julie memasak dan membuat blog agar merasa lebih hidup dan bergairah, Julia belajar memasak untuk mengisi waktu karena ia suka menyibukkan diri. Julie dan suaminya tinggal di sebuah apartemen kecil di atas sebuah pizza parlor, sedangkan Julia dan suaminya memiliki kehidupan yang lebih dari berkecukupan karena karir suami Julia di Deplu AS. Namun keduanya menemukan kebahagiaan dalam memasak, dan keduanya pada akhirnya memperoleh bentuk dan tujuan mereka dalam sesuatu yang mereka sukai.

Itulah yang membuat saya menemukan “aha” moment ketika menonton kembali dan merenungkan perjalanan mereka. Saya menemukan bahwa ketika menuliskan blog ini pun saya tidak harus menjadi seorang drifter tanpa bentuk maupun tujuan yang jelas. yang saya perlukan adalah menggabungkan apa yang saya sukai dan dekat di hati saya untuk saya tuangkan di blog ini, sehingga blog ini memiliki bentuk yang jelas, setidaknya bagi saya sendiri, dan tujuan yang semakin jelas dari hari ke hari, juga bagi saya sendiri.

Dari film ini saya belajar bahwa perasaan bosan, tidak bahagia, sedih, kecewa, dan seribu satu macam emosi negatif yang kadang-kadang singgah, bukanlah musuh yang harus diberantas, atau ditakuti. Emosi-emosi itu adalah alarm, sebuah sinyal atau tanda, bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi, atau dikurangi, atau ditinggalkan, atau diubah, agar menjadi lebih baik, lebih ringan, lebih bermanfaat dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya… demikianlan hidup berjalan.

Akhirnya, film ini juga mengingatkan saya kepada sebuah kalimat yang berbunyi, “All you have to do is to find something you really love to do to work on and the money will follow.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s