Ketika Valen Bercerita & Tanah Tabu

Tanggal 12 November 2009, sebuah sms masuk ke ponsel saya: “Saya baru tiba di Dekai, tolong cari dan baca buku Tanah Tabu karangan Anindita Stayib, Gramedia, berbicara banyak tentang Papua…”

Pesan tersebut baru saya baca beberapa hari kemudian sebab ponsel lupa diletakkan dimana. Saya langsung mencari informasi tentang novel (atau seharusnya disebut novella, sebab bukunya kecil dan tipis saja) ke Goodreads. Di sana sudah banyak resensi yang membuat terpesona. Dua minggu kemudian barulah saya memperoleh buku Tanah Tabu karangan Anindita S. Thayf dan mulai membacanya.

Membuka halaman demi halaman Tanah Tabu, mengikuti jejak-jejak Leksi, Mace dan Mabel, ditemani oleh Pum si anjing dan Kwe si babi, memutar kembali pikiran saya kepada segala sesuatu yang dikisahkan oleh Valen, gadis manis berusia 16 tahun, yang selama dua hari mengobrol di kamar saya menceritakan begitu banyak hal hasil pengamatan matanya masih sangat belia. Mata bersih, bulat dan cerdas itu, merekam banyak peristiwa yang menjadi kenyataan sehari-hari selama 10 tahun kehidupannya di Jayapura bersama ibunya, perempuan kuat dan cerdas, aktivis sebuah partai politik, dan ayahnya, yang masih mewarisi garis keturunan ondoafe atau kepala suku besar di Sentani.

Valen bercerita tentang teman-temannya yang suka mabuk dan merokok. Tentang sebuah ironi ketika pada suatu ketika, ia (yang merupakan seorang aktivis penyuluhan AIDS mewakili sekolahnya di kota Jayapura, dan juga seorang anti-rokok sejati) dengan gagah berani melarang teman-teman laki-laki yang sering berkumpul di depan rumahnya sambil merokok agar tidak merokok, sementara warung milik ibunya sendiri mendapatkan penghasilan utama dari hasil menjual rokok kepada anak-anak tersebut.

Valen bercerita tentang bagaimana tidak seorang anak muda pun mau mempergunakan bahasa suku mereka karena mereka malu bila dicap sebagai orang udik dan tidak modern karena berbicara dalam bahasa daerah, dengan demikian maka bahasa Indonesia memang dikenal, dipakai dan dimengerti dengan baik, bahkan sampai ke daerah paling terpencil sekalipun di Papua. Ia mengakui adanya rasa rendah diri yang begitu besar apabila seseorang tidak dapat berbicara dalam bahasa Indonesia (logat Jakarta) dengan baik.

Valen bercerita tentang kebiasaan mabuk-mabukan yang membuat sebagian besar, Valen menekankan bahwa: hampir semua laki-laki yang dikenalnya, menjadi begitu mudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap isteri maupun anak-anak mereka saat sedang mabuk, atau menjadikan mabuk-mabukan sebagai alasan untuk menganiaya.

Valen bercerita tentang poligami, yang merupakan hal yang wajar, terutama bagi mereka yang memiliki garis keturunan ondoafe, dan ayahnya tidak merupakan perkecualian. Ia bercerita bagaimana ibunya mengalami pergumulan yang luarbiasa karena situasi tersebut baru dialami oleh mereka segera setelah mereka sekeluarga pindah dari Semarang ke Jayapura.

Valen bercerita tentang bagaimana isteri-isteri bersaing memperebutkan perhatian suami, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang mempermalukan diri sendiri dan mencelakai pihak  lain.

Valen bercerita tentang kerusuhan yang pernah menyebabkan salah satu sepupunya, seorang anak gadis berusia 12 tahun yang sedang menjemur baju di halaman samping rumahnya, tiba-tiba tertembus peluru nyasar dari polisi.

Valen bercerita tentang betapa seriusnya penyebaran AIDS di Papua, dan masih sangat sedikit anak muda yang mau perduli tentang hal itu. Ia juga menuturkan betapa bebasnya pergaulan para remaja Papua, dan tentang lokalisasi PSK yang hampir semuanya di datangkan dari Jawa itu, serta betapa tergila-gilanya laki-laki Papua terhadap perempuan-perempuan Jawa.

“Mama bilang,” kata Valen, “Ko jangan pacar-pacaran dulu, sekolah baik-baik, jadi perempuan yang mandiri, supaya tidak bisa diperlakukan dengan sewenang-wenang.”

Membaca Tanah Tabu, seperti mendengar suara Valen sedang menuturkan sebagian dari kisahnya. Ya, sebagian saja dari kisahnya, sebab ia juga bercerita dengan mata yang berbinar tentang cita-citanya menjadi polwan, tentang bagaimana ia menemukan humor dalam kolom-kolom koran pagi yang dilahapnya, bagaimana ia begitu ngefans terhadap seorang penyanyi pujaan masyarakat Papua, yang merupakan keturunan Maluku, tentang keasyikannya bermain dengan teman-temannya, tentang kegiatannya sehari-hari sebagaimana layaknya remaja dimanapun juga mereka berada. Ia bercerita tentang begitu banyak saat-saat manis, diantara kenyataan-kenyataan pahit kesehariannya. Dan mata yang bersih, cerdas dan bersinar-sinar itu, tidak kehilangan cahayanya.

Valen, melengkapi gambaran utuh tentang adanya harapan akan perubahan.

“Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s