Being 40 & cancer

Ketika saya memasuki usia pertengahan 30-an, seorang oom dengan penuh kekuatiran memperingatkan kepada saya tentang satu hal: kanker. Keluarga saya memang rentan penyakit yang satu ini. Pada saat itu, tante saya yang tidak pernah menikah, menderita kanker payudara stadium lanjut, stadium 4, dan menurut dokter yang menanganinya saat itu, sudah tidak ada lagi harapan kecuali terjadi keajaiban.

Syahdan, pada suatu kesempatan selesai menengok tante yang dirawat di sebuah klinik khusus di sukabumi, pada sepanjang perjalanan pulang, saya mendapatkan diri saya diinterogasi dan dinasehati dengan berbagai macam nasehat, plus sebuah prediksi kelam bahwa nasib saya akan berakhir seperti nasib tante saya, terkena kanker payudara, menderita luar biasa dan sengsara, karena saya tidak menikah dan belum pernah melahirkan anak.

Baiklah, saya dapat saja menerima hal itu. Karena sebagian argumentasinya atau bolehkah saya sebut intimidasinay adalah benar. Resiko terkena kanker payudara memang besar terjadi bagi wanita yang tidak menikah, dan, wanita yang menikah (bahkan pria juga bisa kena kanker payudara lho… hati-hati ya kalian yang punya payudara, haha, hati-hati!!!). Maksud saya, kanker itu bukanlah penyakit yang pilih-pilih status, melainkan penyakit yang dikarenakan faktor genetik dan gaya hidup. Karena itu berhentilah menakut-nakuti saya agar menikah hanya supaya saya dapat menghindari kanker. Please!

Yang lebih membuat saya mengomel dalam hati adalah karena, oom dan tante tersebut, yang saya sadari bahwa bermaksud baik (walaupun saya mana tahu apa maksud sebenarnya di balik kebaikan itu), memiliki seorang anak perempuan yang sudah menikah namun hingga kini tidak juga memiliki keturunan. Maksud saya begini loh, kalau argumentasinya adalah saya pasti (atau mungkin HARUSNYA) kena kanker karena tubuh saya tidak pernah dipakai sebagai tempat “berkembangbiak” maka bagaimana nasib mereka yang sudah menikah tetapi juga tidak berkembangbiak? Hmm…????

Dimana, L O G I K A ?

OK, saya bakalan kedengaran judes sekali kalau seperti ini. Namun bukan itu masalahnya. Apakah saya judes atau tidak, tidak akan membuat saya kena kanker atau tidak kena kanker. Kemungkinan besar malah kena darah tinggi dan stroke kalau diteruskan.

Masalahnya adalah: mengapa harus memvonis bahwa saya pasti akan kena kanker??? Emang situ siapa??? Setan??? Kok seneng banget memprediksi yang jelek-jelek untuk anak orang lain? Itu yang membuat saya mau marah, sialnya, tidak bisa melakukan apa-apa juga sih… sebab tidak enak juga melawan orang tua yang sakit jantung (kala itu) dan menerangkan pemikiran2nya dengan gaya yang sangat sabar dan telaten, tetapi memakai kata-kata pilihan yang menohok-hok-hok!

Itulah sulitnya berada dalam posisi sudah dewasa tetapi belum dianggap dewasa hanya karena belum melalui suatu periode tertentu. Padahal kedewasaan tidak ditentukan juga dari hal yang satu itu. Banyak deh cerita tentang being single ini, dan semakin beranjak ke atas, maka semakin juga banyak cerita, ya pastilah… hehe..

Sebetulnya, saya memang mau menulis banyak tentang kanker di sini, sebab saya tahu bahwa penyakit itu real adanya. Kanker bukan juga penyakit lebay. Penyakit itu masih merupakan momok yang telah banyak merenggut nyawa, baik laki-laki maupun perempuan, baik single maupun married, dalam keluarga saya. Kanker tidak bias jender, dan tidak juga pilih-pilih apakah statusmu menikah atau masih lajang. Kanker itu, fair, dia memilih siapa saja yang ramah kepadanya dan pastinya, mau memeliharanya. Hmm… kenapa saya jadi lebih respek sama penyakit ini sih?

Advertisements

4 thoughts on “Being 40 & cancer

  1. Hmm.. mungkin itu usaha si oom ke sekian kali, karena pengennya mba menikah?
    Saya juga sempat merasa takut dengan kemungkinan tsb. Tapi, gimana, dong? Orang yg udah menikah juga tetap berpeluang kena kanker ini. Termasuk laki2, lho!

    Bagi saya, selain berusaha menerapkan pola hidup sehat, upaya yg bisa dilakukan perempuan (entah laki2) ya tes mamografi. Saya hampir saja lo, mba, lantaran takut mau melakukannya. Cuma berbentur waktu kerja niat saya itu mundur terus. 🙂

    “Usaha”? Hihi… entahlah, kesannya saya kayak ga usaha gitu ya? Maksudnya memang baik, inginnya saya menikah, tapi urusan menikah ga menikah itu kan kadang juga misteri, ga hanya bergantung sepenuhnya sama saya, tapi juga kehendakNya, kalau TUHAN memang belum memberikan, mau diapa-apakan juga tetap saja mentoknya toh tidak terjadi juga. Susahnya… org kadang dengan gampang memvonis pasti begini atau begitu, pdhl it is not that simple, it is not as simple as 7steps to a succesful dating, 12 ways to find your soulmate, etc. deh pokoe yg seringkali ditulis di majalah2 itu.

    Yups, kanker itu bukan melulu penyakit lajang, tetapi penyakit siapa saja yang rentan kanker, yg gaya hidupnya “mengundang” si kanker untuk tumbuh-kembang.

  2. rupanya tante sama om begitu sayang sama kamu G sampai-sampai salah menafsirkan sebab kanker dan jodoh yang memang belum di berikan Tuhan , sabar ya ….

    Thanks.. ada pepatah yg berkata: too much love can kill you, nah “sayang” yang semacam ini termasuk salah satunya.. 😉

  3. OK, saya bakalan kedengaran judes sekali kalau seperti ini…

    sumpah mbak..sama sekali gak ada judes-judesnya ..hehehee

  4. pdhl it is not that simple, it is not as simple as 7steps to a succesful dating, 12 ways to find your soulmate, etc. deh pokoe yg seringkali ditulis di majalah2 itu.

    Hahahaha… Kalo kenal ama Om & Tante pengen ‘tak aduin… *kidding*

    Salam kenal ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s