Paloma: Semua terjadi karena suatu alasan :)

 

PalomaPaloma mengisahkan tentang: Iman, harapan dan kasih. Tiga hal yang mendasari kehidupan spiritual seseorang, kehilangan salah satu dari ketiga hal pokok tersebut maka kehidupan spiritual akan menjadi pincang.

Harapan tanpa iman, tidak akan memiliki dasar yang kuat untuk terus berharap, sebab begitu banyak peristiwa yang memerlukan alasan-alasan yang tak akan dapat dijawab oleh pikiran dan pengetahuan manusia yang sangat terbatas. Ketika iman yang berbicara maka alasan-alasan menemukan jawabannya, atau tidak lagi diperlukan alasan untuk segala sesuatu. Iman tanpa harapan tidak akan mungkin, sebab iman selalu melahirkan harapan, mengetahui bahwa Ia memegang kendali atas segala sesuatu dan mengetahui berdasarkan iman bahwa ada masa depan yang baik yang dirancangkanNya itulah dasar dari sebuah pengharapan, melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh mata, sebab percaya. Iman dan harapan tanpa kasih tidak memiliki arti, sebab kasih itulah yang mengikat segala sesuatu hingga menjadi baik dan berarti, kasih memperkokoh iman dan harapan, ketika iman dan harapan terasa hilang, kasih menopangnya, kasih menyelimutinya, kasih menguatkannya. Bukankah pengorbanan terbesar terjadi semata-mata karena kasih?

Paloma bercerita tentang ketiga hal ini. Filsafat yang sederhana (kedengarannya): “Segala sesuatu terjadi dengan alasan tertentu.” Ada alasan yang pasti dibalik segala peristiwa. Apabila kita tak mampu melihatnya, itu karena pengetahuan kita yang terbatas, jarak pandang kita yang terbatas, kemampuan berpikir kita yang terbatas, bukan berarti alasan itu tidak ada. Alasan “mengapa” itu selalu ada jawabannya, namun jawabannya tidak selalu akan kita dapatkan.

Seringkali sebuah peristiwa tertentu datang tiba-tiba dan membuat kita goyah. Kehidupan seperti digoncang oleh gempa, sendi-sendi kehidupan seakan runtuh, dan langit begitu gelap. Harapan mati. Iman tidak melahirkan jawaban yang diharap-harapkan. Tuhan, diam dan jauh. Langit yang lima detik yang lalu masih terang, kini tak lagi menampakkan sekilas cahaya. Suara-suara tawa dan nyanyian digantikan bisikan lirih, kediaman yang bisu, isak dan kepiluan yang menyengat. Hidup dapat begitu kejam, ketika sesuatu yang begitu dekat dirampas begitu saja. Tanpa penjelasan.

Sekali lagi: “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan tertentu,” tidak ada yang terjadi karena kebetulan. Kepedihan itu bentuknya beragam, kematian orang yang dikasihi, putusnya sebuah hubungan, perceraian, penyakit dengan harapan sembuh yang sangat kecil, sebuah konflik yang mencederai hubungan-hubungan, kekecewaan-kekecewaan, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang dapat menjadi “alasan” hadirnya mendung dalam kehidupan setiap orang. Banyak orang yang mengalami mendung setiap hari dalam kehidupannya, dan mereka bertahan dalam harapan bahwa semua ini ada artinya, ada alasannya, mereka bertahan dalam iman. Diperlukan iman untuk berharap, diperlukan kasih untuk terus bertahan dalam pengharapan. Hidup memerlukannya, ketika tidak lagi ada alasan untuk bertahan.

Buku ini dibuka dengan dua kisah sederhana tentang Elida dan Orpet, yang kelak akan menjadi ayah dan ibu Paloma, di masa kecil mereka. Elida kecil, tanpa penjelasan meletakkan sebuah buket bunga mawar berwarna merah muda setelah misa di suatu hari minggu ketika ia berusia sekitar delapan tahun. Elida meletakkan buket tersebut di kaki altar karena ia tak dapat menjangkau altar yang masih terlampau tinggi baginya. Tidak ada penjelasan mengapa ia melakukannya, namun segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Lalu Orpet kecil yang sedang melakukan perjalanan bersama saudara-saudara dan ayahnya, terlempar keluar dari mobil dan jatuh tepat di tepi jurang tanpa cedera sama sekali, sangat mengherankan, dan tanpa penjelasan juga bagaimana mungkin ia dapat selamat dan kenapa ia selamat. Sekali lagi, segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan tertentu.

Bukankah seringkali peristiwa-peristiwa kecil terjadi tanpa dapat dijelaskan mengapa, namun suatu ketika saat menoleh ke belakang kita akan mampu melihat benang merahnya. Suatu tanda-tanda yang ketika sedang menuju proses terjadinya tidak membuat kita sadar sepenuhnya apa yang sedang terjadi karena tanda-tanda itu begitu samar-samar, memang dibuat samar-samarkah, atau diperlukan kepekaan yang lebih tinggi untuk memahaminya? Dapatkah sesuatu dicegah agar tidak terjadi, atau sesuatu sudah digariskan untuk terjadi bagaimanapun caranya?

Paloma kecil dalam buku ini digambarkan seakan telah melepaskan signal-signal tertentu yang ia sendiri tidak dapat menjelaskannya secara gamblang namun secara instingtif seakan-akan tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain. Seorang anak kecil yang luarbiasa dan sangat berbakat, pikiran2nya begitu dalam melampaui usianya. Elida dan Paloma memiliki ikatan batin yang sangat kuat karena mereka berdua memiliki dunia yang sama yang tidak dapat dimasuki oleh orang2 lain yang tidak mencintai seni seperti mereka, keduanya suka melukis, dan Paloma selain berbakat dalam melukis juga sangat berbakat dalam menulis. Ia menuangkan pikiran-pikirannya dalam puisi-puisi pendek yang kebanyakan dibuatnya untuk Elida, ibunya.

Sangat menarik penggambaran tentang doa dan iman seorang anak kecil dalam buku ini, yaitu ketika Paloma mendesak Elida agar melihat langit sore menjelang senja bersamanya, sedangkan Elida sedang mempersiapkan makan malam bagi mereka sekeluarga. Akhirnya Elida menuruti keinginan Paloma dan menyerahkan urusan dapur ke tangan puteri sulungnya, Renata. Percakapan mereka tentang keindahan matahari menuju tenggelam berakhir secara tiba-tiba di diskusi mereka tentang keindahan surga dan umur kehidupan seseorang, karena secara tiba-tiba seekor burung besar jatuh tergeletak sebab menabrak pohon dengan sangat keras.

—–
Paloma berlutut di rumput dan mengamati burung itu dalam jarak yang aman. Elida mencengkeram punggung Paloma dan menariknya sedikit menjauh.

“Apakah ia mati, Bu?”
“Ibu tidak tahu.”

Elida bergerak mendekati ke burung itu dan memandangnya dengan cermat. Ia mencoba menemukan detak jantung atau gerakan lain, tetapi tidak berhasil. Jelas burung itu telah mati.

“Bagaimana kalau kita berdoa,” usul Elida kepada Paloma.

Segera setelah mengucapkannya, Elida mencoba menarik kata-katanya kembali. Sungguh tidak masuk akal, pikirnya. Ia pernah mengajak Paloma berdoa sebelumnya dan Paloma menolaknya. Sekarang, di luar rumah dan di atas rumput dengan seekor burung yang tersesat dan mati di sisi mereka, Elida mengusulkan untuk berdoa. Tetapi tanpa diduga, Paloma mengulurkan tangan dan memegang burung tsb serta setuju untuk berdoa. Elida memegang tangan Paloma dan mereka berdoa dalam hati.

Tepat saat mereka selesai berdoa, tidak lebih dan tidak kurang satu detik pun, burung tersebut mengedutkan sayapnya dalam genggaman Paloma dan menyentakkan badannya keluar genggaman Paloma. Dengan gerakan luwes yang indah dan tiba-tiba, burung tersebut terbang dan menghilang di atas pepohonan.

Elida terpekik kaget dan tidak percaya. Paloma,sebaliknya duduk tenang di rumput melihat ke atas dengan wajah puas dan damai. Sepertinya, bukan saja doanya terjawab, tetapi ia sudah tahu hal itu akan terjadi.
—–

Itu sebabnya dikatakan kita semua harus memiliki iman seperti seorang anak kecil. Hal ini juga merupakan sebuah deskripsi menarik tentang “kesempatan” yang seringkali datang tanpa dapat diduga. Kalau saja Elida tetap memasak dan tak menghiraukan permintaan Paloma untuk melihat langit sore hari itu, maka ia pasti dapat menyelesaikan tugasnya memasak makanan jasmani bagi seluruh anggota keluarganya, namun ia kehilangan kesempatan untuk mengajarkan pelajaran iman dan menyaksikan bagaimana melalui iman polos seorang anak kecil Tuhan bekerja dengan cara yang sangat misterius dan segala sesuatu terjadi karena suatu alasan :-).

Begitu banyak cuplikan-cuplikan sederhana namun merupakan sebuah kesaksian begitu dahsyat (bagi saya pribadi) dalam buku ini. Hal-hal kecil dan sehari-hari dalam kehidupan keluarga kelas menengah Brasil diungkapkan dengan cara yang sederhana, namun membekas begitu mendalam, karena semua terasa “dekat” dengan kehidupan sehari-hari. Hal-hal kecil dan sepele, kebiasaan-kebiasaan yang seringkali tidak dianggap serius, semua itu memiliki “alasan” mengapa hal itu ada dan terjadi. Alasan yang kadang tidak kasat mata, diperlukan “hati” untuk memahaminya.

Buku ini memiliki sebuah penutup yang indah sekaligus pedih: Ketika kita kehilangan sesuatu, itu karena Tuhan ingin menganugerahkan kepada kita sesuatu yg lain, yang sifatnya lebih kekal. Untuk memahami hal ini seperti Elida memahaminya dan tiba pada kesimpulan tersebut, diperlukan iman, harapan dan kasih yang datang hanya oleh kasih karuniaNya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s