being 40 & cancer
July 16, 2009
ketika saya memasuki usia 30-an, pertengahan, seorang oom dengan penuh kekuatiran memperingatkan kepada saya tentang satu hal: kanker. karena keluarga saya memang rentan terhadap penyakit yang satu ini. pada saat itu, tante saya yang juga tidak menikah, sedang menderita kanker payudara stadium lanjut, stadium 4, dan menurut dokter pengobatan holistik yang menanganinya saat itu, sudah tidak ada lagi harapan kecuali keajaiban.
maka, pada suatu kesempatan selesai menengok tante yang dirawat di sebuah klinik khusus di sukabumi ini, maka, sepanjang perjalanan pulang, saya mendapatkan diri saya diinterogasi dan dinasehati dengan berbagai macam nasehat, plus (menurut saya) sebuah prediksi kelam bahwa nasib saya akan berakhir seperti nasib tante saya yaitu terkena kanker payudara karena saya tidak menikah dan belum pernah melahirkan anak.
ok. saya dapat saja menerima hal itu. karena sebagian argumentasinya adalah benar. resiko terkena kanker memang besar terjadi bagi wanita yang tidak menikah, dan, wanita yang menikah. maksud saya, kanker itu bukanlah penyakit yang pilih2 status. melainkan penyakit yang dikarenakan faktor genetik dan gaya hidup. karena itu berhentilah menakut2i saya agar menikah hanya supaya saya dapat menghindari kanker. please!
yang lebih membuat saya menjadi ngomel2 di dalam hati adalah karena, oom dan tante tersebut, yang saya sadari bahwa bermaksud baik, memiliki seorang anak perempuan yang sudah menikah namun hingga kini tidak juga memiliki keturunan. maksud saya begini loh, kalau argumentasinya adalah saya “pasti” kena kanker karena tubuh saya tidak pernah dipakai sebagai tempat “berkembangbiak” maka bagaimana nasib mereka yang sudah menikah tetapi juga tidak berkembangbiak? hmm…????
dimana, logika?
OK, saya bakalan kedengaran judes sekali kalau seperti ini. namun bukan itu masalahnya. apakah saya judes atau tidak, tidak akan membuat saya kena kanker atau tidak. mungkin darah tinggi dan stroke kalau diteruskan.
masalahnya adalah: mengapa harus memvonis bahwa saya pasti akan kena kanker sih? itu yang membuat saya mau marah, tapi tidak bisa sebab tidak enak juga melawan orang tua yang sakit jantung (kala itu) dan menerangkan pemikiran2nya dengan gaya yang sangat sabar dan telaten, tetapi menohok-hok-hok!
itulah sulitnya berada dalam posisi sudah dewasa tetapi belum dianggap dewasa hanya karena belum melalui suatu periode tertentu. padahal kedewasaan tidak ditentukan juga dari hal yang satu itu. ach… banyak deh cerita tentang being single ini. dan semakin beranjak ke atas, maka semakin juga banyak cerita, ya pastilah… hehe..
eniwei, saya memang mau menuliskan banyak tentang kanker di sini, sebab saya tahu bahwa penyakit itu real adanya, bukan juga penyakit lebay. penyakit itu masih merupakan momok yang telah banyak merengut nyawa baik laki2 maupun perempuan, baik single maupun married. penyakit ini tidak bias jender, dan tidak juga pilih2 status. hmm… kenapa saya jadi lebih respek sama penyakit ini malahan?
being 40something dan single is not a crime!
July 16, 2009
this is not a cry for help untuk dicarikan jodoh, for i already know something about this statement: For I know the plans I have for you, declare the Lord, plans to prosper you, not to harm you, plans to give you hope and a future. dan juga: be still and know that I am God.
as a christian, i look at everything from a christian point of view, because there’s no other way to see it, that is my faith and also my filter.
hal itu mendasari sebuah perbedaan yang mendasar antara saya dan seorang “kenalan” yang ngotot mencoba berteori mengapa saya tidak juga menikah, mempertanyakan apakah saya pernah melakukan ini dan itu, “menuduh” saya kurang berusaha, etc. bagi saya keterangannya sangat sederhana: dunia ini tidak lagi sempurna seperti di taman firdaus dahulu ketika segala sesuatu berpasang-pasangan dengan sempurna. ketika dosa menjauhkan manusia dari Tuhan-nya maka segala sesuatu yang baik dan sempurna itu menjadi runtuh, termasuk di dalamnya: soulmate.
bagi saya, semakin cepat ia dapat mengunyah bahwa tidak semua orang pasti menemukan jodohnya, maka akan semakin kecil rasa frustrasi yang dialaminya dalam mencermati fenomena “saya” yang single ini diusia yang mendekati separuh abad. saya yang masih saja sendirian ini bukan masalahnya, kalau saja ia mau dan mampu memandang saya sebagai sebuah individu yang berpikir dan merasa, bukan sebagai sesuatu yang tidak lengkap dan sempurna hanya karena saya tidak berstatus nyonya anu atau isterinya si anu.
being 4osomething and single, is not a bad thing. it is just is. kenyataan adalah kenyataan adalah kenyataan adalah kenyataan! dan hal itu yang pertama: HARUS DITERIMA sebagai sebuah kenyataan. kemungkinan bahwa saya tidak akan pernah menikah adalah hal yang tidak perlu menjadikan dia merasa kasihan kepada saya. bagi saya dia harusnya lebih ngeri membayangkan tingkat perceraian dan perselingkuhan yang begitu tinggi dan setiap pernikahan memiliki potensi untuk mengalami perceraian, dan akibatnya semakin banyak orang yang single plus trauma. saya nggak mengatakan bahwa itulah sebabnya saya tidak menikah, hoho, jangan menarik kesimpulan seperti itu, sebab itu salah luarbiasa. maksud saya, janganlah memandang kehidupan saya seperti sebuah lubang hitam tanpa harapan. hidup ga melulu soal menikah ga menikah, hidup itu adalah soal bagaimana memuliakan nama Tuhan apapun kondisi saya. dan saya menolak untuk menyempitkan kehidupan dan kebahagiaan dalam sebuah kotak kondisi sosial yang mau memaksakan pandangan bahwa tidak menikah=tidak bahagia, sebab pada kenyataannya banyak yang menikah tapi tidak bahagia.
so, saya benar2 berharap, kenalan tersebut berhenti menjadi tidak bahagia karena kondisi saya, haha, tapi, haknya juga untuk merasa tidak nyaman.
41
July 16, 2009
June 20, 2009. a new beginning, turning 41 is a new begining, right? yeps, right. i have just realized there is no turning back. something funny about time, it goes on: forward.
akhirnya..
February 15, 2009
masih menyambung soal mikir-mikir mau diapakan begitu banyak blog yang saya miliki, karena tidak punya ketegaan untuk mengaborsi mereka setelah melakukan aborsi blog beberapa kali dan merasa sangat menyesal sebab ternyata ide-ide memang perlu dituangkan dan it’s OK meskipun berserakan, sebab benang merahnya toh kelihatan juga, bahkan secara tak disadari saling melengkapi satu dengan yang lain, walaupun kadang aneh sekali bahwa kok ada kontradiksi padahal berasal dari satu orang yang meneropong peristiwa yang sama, namun hal itu justru memberi saya pemahaman mengapa keempat injil di dalam Alkitab tidak seragam dalam bentuk penulisannya walaupun esensi-nya sama, itu ternyata sangat beralasan dan justru sangat mengagumkan! hehe, ternyata ngeblog membuat saya lebih memahami kitab suci tercinta. maka saya menyimpulkan bahwa ngeblog ini sehat dan positif, bagi jiwa dan otak saya. ya, saya merasa jauh lebih berbahagia sejak mengenal blog, sejak mampu melepaskan pikiran dalam bentuk tulisan dan menyadari bahwa bukan saya saja yang membacanya, namun saya tidak takut untuk tetap menulis. saya tidak malu. saya memiliki opini yang boleh saya suarakan tanpa harus merasa bersalah dan dalam bahasa yang beradab. sebab saya merasa sebagai manusia yang beradab. dan ternyata kesadaran semacam ini menjadi filter sendiri bagi saya ketika menuliskan sesuatu, saya jadi dapat menahan diri untuk tidak mengobral hal-hal yang terlampau pribadi, mungkin memolesnya dengan bahasa atau susunan kalimat yang sedemikian rupa sehingga ketika membacanya saya tahu bahwa saya berlaku jujur dengan diri sendiri, tanpa mengkompromikan privacy saya. dan hal itu luarbiasa nikmatnya, sebuah seni, setidaknya bagi saya.
akhirnya… saya tahu apa yang akan saya lakukan dengan blog ini. blog ini adalah blog khusus 40 something and beyond. Haha! yups, seputar masalah wanita pada umumnya, dan saya pada khususnya, pergunjingan2 single life and living single, baik yang divorcee, asli lajang, maupun ibu2 RT yang merasa hidup sendiri dalam dunia kerumahtanggaannya, pernak-pernik usia2 matang, yaitu usia yang sedang saya jalani saat ini. apa yang dirasakan oleh perempuan2 di usia 40? lebih tepatnya, apa yang saya rasakan di usia 40 dan menanjak terus pada tahun2 berikutnya tentu saja. banyak yang menyatakan seharusnya menurun, namun saya tidak beranggapan demikian. saya tahu bahwa fisik dan fungsi2nya memang secara alamiah mengalami perubahan, menjadi berbeda dengan waktu2 sebelumnya, namun justru disitulah letak keindahannya, disitulah sebuah petualangan baru mengenali tubuh dimulai, kesadaran bahwa tubuh memiliki keterbatasan sekaligus ranah2 yang tidak pernah ditelusuri sebelumnya ketika usia masih terlalu muda untuk perduli..
mikir-mikir, nulis-nulis dan masih mikir-mikir lagi
January 16, 2009
Selamat pagi dunia…
Di pagi ini, diiringi derai hujan di luar sana, saya menyadari bahwa hati yang mendua itu ternyata sulit untuk dijalani. Saya cukup kagum dengan mereka yang bisa menjalani sampai berempat berlima berenam, apalagi yang seperti raja Salomo itu yang mampu menjalani sampai beratus (pasangan hidup), OMG, ga terbayangkan betapa membingungkannya membagi diri dan ruang hati untuk sekian banyak manusia, belum lagi pekerjaannya sehari-hari, RAJA gitu loh, dan raja yang arif serta bijaksana pula, KONON kabarnya kan begitu? Dan terbukti memang dari kitab Amsal yang sebagian besar ditulis oleh Salomo dan isinya adalah kumpulan nasihat-nasihat praktis. Mungkin, Salomo memang adalah manusia paling bijaksana yang pernah hidup di dunia ini, namun kebijaksanaan yang dimilikinya ternyata tidak menjamin kebijaksanaan dalam melangkah dan menentukan pilihan dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. MUNGKIN (lagi) hal itu justru terjadi agar dia dapat mencermati di kemudian hari, langkah-langkah yang salah yang pernah dilakukannya dan kemudian menuliskan apa langkah yang seharusnya diambil untuk menghindari kesalahan-kesalahan seperti yang telah diperbuatnya.
Apa hubungannya dengan entri ini? TIDAK ADA.
Saya hanya memutuskan bahwa, mempunyai beberapa blog itu ternyata memang bukan hal yang mudah. Karena itu maka saya sedang berpikir sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu yang ‘bijaksana’ dengan SETIAP blog yang saya miliki. Kalau saya mau berbagi hati, atau lebih tepatnya membagi perhatian, maka saya harus juga membuat beberapa kriteria yang jelas untuk setiap blog. Blog G’s It Personal itu khusus untuk tulisan yang begini, blog G’s Spot untuk yang begitu, cerita2 Jason dan Joshua, nampaknya sudah paling jelas kategorinya, yaitu tentang Jason dan Joshua, celotehan-celotehan mereka, perkembangan mereka, kisah-kisah mereka sehari-hari, dan blog ALLELUIA adalah untuk perenungan2 saya sendiri yang sifatnya pure spiritual.
Nampaknya saya mengkotak-kotakan kehidupan saya dalam beberapa kotak berlabel tertentu. Ada laci khusus untuk hal ini, ada laci yang lain lagi untuk hal itu. Yang pasti G’s It’s Personal jelas merupakan blog yang akan saya update setiap hari. Sedangkan G’s Spot ini, seharusnya menjadi tempat persembunyian saya, hehe.. Tapi persembunyian yang disebarluaskan sendiri namanya jelas bukan sebuah persembunyian dong, gimana siy?
Hmm… saya harus mulai mencari bentuknya. Mungkin saya akan belajar menulis tulisan-tulisan yang berguna di sini? Misalnya ulasan buku, filem, marketing, sosiologi, psikologi, motivasi, kuliner, berita-berita yang menarik perhatian saya, bahkan mungkin saja politik ringan, pokoknya segala sesuatu yang berbentuk dan jelas. Nampaknya, saya harus memberikan bentuk kepada G’s Spot ini, sehingga dimana titik kenikmatannya nampak jelas bagi diri saya sendiri.
Ya, demikianlah pikir-pikir hari ini ditutup.
slow dancing
January 12, 2009
slow dancing inside my heart,
inside my head,
inside my soul
it’s raining hard outside
i wrapped myself inside
this lingering sweet memory
i can feel you here, right now
dancing with me
hush…
and dance with me like we used to do.
Membuka Hari: Telat
January 4, 2009
Iya, saya telat bangun pagi ini untuk ke gereja pagi. Padahal ini hari Minggu pertama di bulan Januari di tahun 2009, dan rencana saya adalah melakukan segala sesuatu dengan ’sempurna’, ternyata? Hh… ini salah satu contoh dari keteledoran, karena semalam sibuk mendiskusikan pekerjaan, jadinya malah keteteran di ibadah. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi kalau saja saya menempatkan segala sesuatu pada tempat yang seharusnya.
Tapi ya sudahlah, sudah terjadi. Berarti hari Minggu ini gagal ibadah pagi, masih ada waktu untuk ibadah sore, jangan sampai yang satu ini juga tidak terlaksana, nah itu namanya kesengajaan!
Jadi ingat artikel tentang awareness, yaitu hidup dengan kesadaraan penuh melakukan segala sesuatu pada saat dan waktu itu. Maksudnya? Maksudnya adalah berkonsentrasi penuh pada saat ini ketika menjalani saat ini.
Misalnya, ketika mencuci piring, maka sadarilah bahwa sedang mencuci piring, lihat baik-baik piring yang sedang di cuci, nikmati gelembung-gelembung sabunnya, gosok dengan benar bagian-bagian yang kotor hingga kinclong piring itu, lalu bilas bersih-bersih, letakkan di tempat pengering, dan selama melakukan hal itu, nikmatilah saat-saat itu tanpa sibuk memikirkan setrikaan atau cucian yang belum dijemur misalnya, karena toh kita tidak bisa juga melakukan dua hal atau tiga hal pada saat yang bersamaan. Begitu intinya.
Nah, saya harus belajar melakukan hal itu, hidup dengan kesadaran penuh dan hadir dengan kehadiran penuh. Saya harus berhenti melakukan hal-hal ini: menulis blog sambil blogwalking dan ceting di YM misalnya, hahahaaa… Atau, membaca sambil sekaligus menonton filem dan membuka sebuah situs di internet. Atau makan malam dengan teman-teman sambil juga sibuk dengan hape di tangan mengecek fesbuk atau blog. Karena, setelah sampai di rumah atau dipenghujung hari sewaktu mau tidur dan kembali merenungkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari dalam hidup saya, maka saya seringkali merasa tidak melakukan apa-apa. Blank. Nothing. Nada. Saya melakukan semuanya sekaligus, seakan menelan tanpa mengunyah dan merasai, glep glep glep, dan ketika ditanya apa rasanya, bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjelaskannya, sebab saya memang tidak pernah merasakan atau menikmati hanya menjalaninya saja.
Maka saya tidak mau lagi jatuh pingsan selama hidup ini berjalan. Haduh apa pula ini? Maksudnya, saya tidak mau lagi hidup dengan kesadaran yang minim tentang apa yang sedang saya lakukan. Saya ingin ketika berkontemplasi pada saat-saat menjelang tidur, saya bisa menemukan jejak-jejak saya hari itu dan menghitung serta mengevaluasi kembali dengan jernih apa yang sudah saya lakukan tanpa merasa bingung sendiri apakah saya benar-benar sudah melakukannya.
Hmm… bagaimana ya caranya?
Mulai Sembuh
December 12, 2008
Ternyata saya mulai sembuh. Sembuh dari apa? tanya saya kepada diri sendiri. Sembuh dari rasa sakit tentu saja, memangnya apa lagi? Ya iya lah, pasti sembuh dari rasa sakit, tapi rasa sakit karena apa? Saya tidak mau mengatakannya. Yang pasti saya mulai merasa sembuh, dan untuk itu ada seseorang yang telah membantu saya. Ajaib bahwa pertemuan yang tidak pernah direncanakan dan diduga-duga ternyata punya efek luarbiasa bagi saya. Saya juga tidak menyangka bahwa akan ada pertautan rasa yang menakjubkan. Saya tidak pernah mengira.
Apa ini namanya? Yang pasti pertautan jiwa itu ada. Kata-kata yang mengalir begitu mirip. Dan kadang-kadang sangat lucu bahwa kami sama-sama mengatakan hal yang sama. Seharusnya hal ini terjadi pada orang yang sudah lama saling mengenal. Dalam kasus yang saya alami, hal itu terjadi sangat premature, sangat awal, sangat mengherankan.
Lalu, bagaimana dia menolong saya untuk sembuh, atau setidaknya mulai sembuh? Dengan memperlihatkan kepada saya bahwa tidak perlu takut untuk ‘merasakan’. Ada sesuatu dalam caranya yang membuat saya berani menengok ke belakang dan mengevaluasi kembali secara perlahan-lahan jalan-jalan yang pernah saya tempuh dalam ranah rasa. Saya menelusuri tikungan-tikungannya, setiap kontur yang membentuk tanahnya, setiap jejak yang pernah ditapakkan. Dan saya merasakan kehidupan lagi di sana. Ya, tepat di tengah-tengah pusat dari segala rasa yang pernah saya tekan dalam-dalam itu, saya justru merasakan kembali detak nadinya, ada darah yang saya biarkan lagi mengalir, ada nafas yang saya tarik dan keluarkan kembali.
Dikatakan bahwa, setiap orang memiliki pasangan jiwanya. Mungkin bukan pasangan secara romantis, atau ikatan pernikahan, hanya pasangan jiwa, yang begitu mirip dan serupa, hampir-hampir seperti melihat gambaran diri sendiri. Bisa jadi itu ada dalam diri seorang sahabat, seorang kekasih, seorang suami, seorang isteri. Saya hampir-hampir percaya bahwa ini adalah jiwa yang begitu mirip dengan jiwa saya.
Hmm….Mungkinkah?
Saya suka berandai-andai, namun dalam sekali peristiwa ini, saya tidak mau melongok terlalu jauh ke dalam tanda tanya dan kemungkinan-kemungkinan. Saya mau belajar untuk menerima bahwa segala sesuatu yang nampak adalah as it is, or just is, tanpa perlu menebak-nebak apakah ini, apakah itu. Saya hanya mau bersyukur bahwa saya mengalaminya. Bahwa pada sebuah titik tertentu ketika saya berpikir bahwa hidup dan hati saya akan selalu diplester dalam kungkungan sebuah luka, ternyata ada orang yang membantu saya membuka plester itu dan melihat bahwa luka saya ternyata sudah mengering.
Saya, amat sangat beruntung. Terimakasih (^_^).
bila…
November 6, 2008
hari ini aku berpikir tentang
bila
bila esok tidak lagi ada
berarti aku melangkah dalam ruang kosong
atau itukah yang dinamakan tanpa batas waktu?
bila esok tidak lagi ada
berarti aku berjalan dalam tanpa dasar
atau itukah yang dinamakan ruang tanpa sekat?
hari ini aku berpikir tentang
bila
bila saja hatiku tahu apa yang kupikirkan
dan pikirku tahu apa yang kurasakan…
Hujan adalah
November 6, 2008
air yang jatuh
menjadi musik yang merayu di luar rumah
merabai aku dari balik kaca
mengayun dan mengibas kelebatan matanya
berkedip disudut kening
memanggilku berdansa
dalam rengkuhannya
membasahi jiwaku dengan kenangan tentang masa dan saat
memenjarakan aku dalam waktu-waktu kemarin
membebaskan aku kembali ke waktu-waktu yg terpenjara
…
ah!