Membuka Hari: Telat

January 4, 2009

Iya, saya telat bangun pagi ini untuk ke gereja pagi. Padahal ini hari Minggu pertama di bulan Januari di tahun 2009, dan rencana saya adalah melakukan segala sesuatu dengan ’sempurna’, ternyata? Hh… ini salah satu contoh dari keteledoran, karena semalam sibuk mendiskusikan pekerjaan, jadinya malah keteteran di ibadah. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi kalau saja saya menempatkan segala sesuatu pada tempat yang seharusnya.

Tapi ya sudahlah, sudah terjadi. Berarti hari Minggu ini gagal ibadah pagi, masih ada waktu untuk ibadah sore, jangan sampai yang satu ini juga tidak terlaksana, nah itu namanya kesengajaan!

Jadi ingat artikel tentang awareness, yaitu hidup dengan kesadaraan penuh melakukan segala sesuatu pada saat dan waktu itu. Maksudnya? Maksudnya adalah berkonsentrasi penuh pada saat ini ketika menjalani saat ini.

Misalnya, ketika mencuci piring, maka sadarilah bahwa sedang mencuci piring, lihat baik-baik piring yang sedang di cuci, nikmati gelembung-gelembung sabunnya, gosok dengan benar bagian-bagian yang kotor hingga kinclong piring itu, lalu bilas bersih-bersih, letakkan di tempat pengering, dan selama melakukan hal itu, nikmatilah saat-saat itu tanpa sibuk memikirkan setrikaan atau cucian yang belum dijemur misalnya, karena toh kita tidak bisa juga melakukan dua hal atau tiga hal pada saat yang bersamaan. Begitu intinya.

Nah, saya harus belajar melakukan hal itu, hidup dengan kesadaran penuh dan hadir dengan kehadiran penuh. Saya harus berhenti melakukan hal-hal ini: menulis blog sambil blogwalking dan ceting di YM misalnya, hahahaaa… Atau, membaca sambil sekaligus menonton filem dan membuka sebuah situs di internet. Atau makan malam dengan teman-teman sambil juga sibuk dengan hape di tangan mengecek fesbuk atau blog. Karena, setelah sampai di rumah atau dipenghujung hari sewaktu mau tidur dan kembali merenungkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari dalam hidup saya, maka saya seringkali merasa tidak melakukan apa-apa. Blank. Nothing. Nada. Saya melakukan semuanya sekaligus, seakan menelan tanpa mengunyah dan merasai, glep glep glep, dan ketika ditanya apa rasanya, bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjelaskannya, sebab saya memang tidak pernah merasakan atau menikmati hanya menjalaninya saja.

Maka saya tidak mau lagi jatuh pingsan selama hidup ini berjalan. Haduh apa pula ini? Maksudnya, saya tidak mau lagi hidup dengan kesadaran yang minim tentang apa yang sedang saya lakukan. Saya ingin ketika berkontemplasi pada saat-saat menjelang tidur, saya bisa menemukan jejak-jejak saya hari itu dan menghitung serta mengevaluasi kembali dengan jernih apa yang sudah saya lakukan tanpa merasa bingung sendiri apakah saya benar-benar sudah melakukannya.

Hmm… bagaimana ya caranya?

4 Responses to “Membuka Hari: Telat”


  1. iya nih..dq juga menikmati bait per bait postingan ini mbak..

  2. Eucalyptus Says:

    Wauaaaa….. kok blogspot dari kantor gak bisa dibuka neh? huhuhu.. bete deh Gat.. Fesbuk juga gak bisa.. jangan2 di blockir neh sama orang IT….

  3. maskoko Says:

    Semakin kita menyukai pekerjaan kita, maka kita pun akan menyukai diri kita.
    Saat kita tidak menyukai pekerjaan kita, saat itulah kita juga membenci diri sendiri, menyalahkan diri sendiri…

  4. suryaden Says:

    makin hari, evaluasi dan refleksi perhari jadi makin sulit…
    celakanya dikumpulin seminggu.. lupa semua… wah sama nasibnya…


Leave a Reply