Mulai Sembuh
December 12, 2008
Ternyata saya mulai sembuh. Sembuh dari apa? tanya saya kepada diri sendiri. Sembuh dari rasa sakit tentu saja, memangnya apa lagi? Ya iya lah, pasti sembuh dari rasa sakit, tapi rasa sakit karena apa? Saya tidak mau mengatakannya. Yang pasti saya mulai merasa sembuh, dan untuk itu ada seseorang yang telah membantu saya. Ajaib bahwa pertemuan yang tidak pernah direncanakan dan diduga-duga ternyata punya efek luarbiasa bagi saya. Saya juga tidak menyangka bahwa akan ada pertautan rasa yang menakjubkan. Saya tidak pernah mengira.
Apa ini namanya? Yang pasti pertautan jiwa itu ada. Kata-kata yang mengalir begitu mirip. Dan kadang-kadang sangat lucu bahwa kami sama-sama mengatakan hal yang sama. Seharusnya hal ini terjadi pada orang yang sudah lama saling mengenal. Dalam kasus yang saya alami, hal itu terjadi sangat premature, sangat awal, sangat mengherankan.
Lalu, bagaimana dia menolong saya untuk sembuh, atau setidaknya mulai sembuh? Dengan memperlihatkan kepada saya bahwa tidak perlu takut untuk ‘merasakan’. Ada sesuatu dalam caranya yang membuat saya berani menengok ke belakang dan mengevaluasi kembali secara perlahan-lahan jalan-jalan yang pernah saya tempuh dalam ranah rasa. Saya menelusuri tikungan-tikungannya, setiap kontur yang membentuk tanahnya, setiap jejak yang pernah ditapakkan. Dan saya merasakan kehidupan lagi di sana. Ya, tepat di tengah-tengah pusat dari segala rasa yang pernah saya tekan dalam-dalam itu, saya justru merasakan kembali detak nadinya, ada darah yang saya biarkan lagi mengalir, ada nafas yang saya tarik dan keluarkan kembali.
Dikatakan bahwa, setiap orang memiliki pasangan jiwanya. Mungkin bukan pasangan secara romantis, atau ikatan pernikahan, hanya pasangan jiwa, yang begitu mirip dan serupa, hampir-hampir seperti melihat gambaran diri sendiri. Bisa jadi itu ada dalam diri seorang sahabat, seorang kekasih, seorang suami, seorang isteri. Saya hampir-hampir percaya bahwa ini adalah jiwa yang begitu mirip dengan jiwa saya.
Hmm….Mungkinkah?
Saya suka berandai-andai, namun dalam sekali peristiwa ini, saya tidak mau melongok terlalu jauh ke dalam tanda tanya dan kemungkinan-kemungkinan. Saya mau belajar untuk menerima bahwa segala sesuatu yang nampak adalah as it is, or just is, tanpa perlu menebak-nebak apakah ini, apakah itu. Saya hanya mau bersyukur bahwa saya mengalaminya. Bahwa pada sebuah titik tertentu ketika saya berpikir bahwa hidup dan hati saya akan selalu diplester dalam kungkungan sebuah luka, ternyata ada orang yang membantu saya membuka plester itu dan melihat bahwa luka saya ternyata sudah mengering.
Saya, amat sangat beruntung. Terimakasih (^_^).