Being Left Behind
November 22, 2008
TIba-tiba teman saya telpon, ‘Lagi ngapain loe?’ Nah biasanya kalo dia menanyakan lagi ngapain loe seperti itu berarti dia akan curhat. Saya hafal sehafal-hafalnya ‘body-language’ bahasanya dia (istilah apa pula ini?), karena sesudah berteman sekian tahun, menjalani sekian banyak konflik (dalam hidupnya–sebab hidup saya bebas konflik, yaiiiy!) maka bisa dikatakan, dia sudah kartu mati ditangan saya (^^p).
‘Ga sedang ngapa-ngapain kok, loe tau lah gw kalo ga ada para kurcaci ya bengong aja. Knape bu?’ Mendapat lampu hijau, yang berarti at-your-service-ALL-DAY, atau lebih tepatnya telingaku-adalah-milikmu-sampai-lengket-di-speaker-phone-ini tersebut, maka meluncurlah curahan hatinya. Dan saya mendengarkan dengan baik, sekali-sekali menggigit bibir karena ingin berkomentar tetapi saya tahan-tahan, sampai akhirnya yang diujung sana berkomentar, ‘G, loe masih hidup atau sudah tidur? Jangan-jangan loe ninggalin telpon kebuka en loe sedang nyuci piring sembari gw cuap-cupa, Woooiyy!!’
Hahahahahaaa! Soalnya memang itu pernah terjadi! Ada juga yang orangnya asyik cuap-cuap saya ketiduran. Pesan moralnya adalah: jangan telpon saya lama-lama dong. SEBAB, telinga saya memang kuat dan tidak akan lari-lari dari kedua sisi kepala, tapi mata saya ini loh yg cepat shut-down (wide open?), begitu juga otak saya dan pikirannya yang suka lari kemana-mana.
(^^,)
Ok-lah saya memang bersalah, tetapi kan bisa jadi penghiburan bahwa, karena suaranya terlalu merdu di telinga sehingga menjadi musik yang mengantar saya tidur… Ya kan? Ya kan?
Eniwei, setelah teman saya tahu bahwa saya masih setia mendengarkan radio Curhat FM 007-nya maka dia pun melanjutkan ceritanya. Inti keluhannya sebenarnya tidak jauh-jauh dari kehidupan kami para single–mohon yang sudah menikah tunjuk tangan dan keluar dari ruangan, saya beri waktu 5 menit, heheheheeee….
Apa siy yang dikeluhkan para single. Saya menolak kata ‘jomblo’–apa pula maksudnya kata itu siy? Jomlo–yep tanpa huruf b bo’, JOMLO, kalau di Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai gadis tua. Sudah tua kah dirikyu? Beluuum. Karena itu saya menolak juga kata jomlo. Haha! Se bodo teuing. Kata single atau lajang, itu lebih tepat dan bermartabat. Karena memang pada kenyataan dalam kehidupan orang2 tanpa pasangan hidup adalah manusia yang menjalani kehidupan single, melajang, dan tidak harus berarti sendirian atau sepi, ga selalu begitu. Sedangkan mereka yang berpasangan, tidak sedikit yang merasa kesepian dan sendirian dalam kehidupan bersamanya. Nah loe kenapa juga saya mulai ngelantur?
Saya ngelantur karena keluhan dari teman saya adalah kerinduan untuk segera mendapatkan pasangan hidup. ‘Tidak tinggi-tinggi kok, G,’ katanya sambil menarik nafas panjang, ‘yang penting sayang sama gw, dan mapan, yah punya rumah sendiri deh. Gw capek juga sendirian.’
Capekkah hidup sendirian itu? Saya bertanya kepada diri sendiri. Jawabannya adalah, YA! YA! YA! tapi–ada tapinya, capeknya hidup sendirian itu terjadi setiap kali saya melihat kepada tetangga sebelah yang hidup berduaan, setiap kali saya melihat mereka saya merasa capek. Capek memikirkan, kapan ya saya seperti itu, akan adakah hari-hari seperti hari-hari mereka?
Namun, setiap kali saya melihat tulisan seperti: ‘kita tidak dapat hidup sendiri’, saya menggelengkan kepala. Kita dapat hidup sendiri kalau kondisinya mengharuskan begitu atau terpaksa menjalaninya seperti itu atau memilih seperti itu, namun kita tidak didisain untuk hidup sendirian karena itu dalam relung yang paling dalam selalu terdapat kerinduan untuk ‘disempurnakan’ seperti yang dikatakan Tom Cruise kepada Renee Zellweger dalam Jerry Macguire, ‘I love you. You complete me…’ Dan jawaban Renee Zellweger, ‘Shut up. Just shut up…..You had me at hello. You had me at hello.’ Titik inilah yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang–termasuk yang sedang mengetik kata-kata ini.
Ada suatu tempat di pusat rasa yang menunggu untuk menjadi satu bulatan penuh. Namun (lagi2 si Namun muncul neh), saya memiliki kesadaran penuh (yg tidak harus sepakat denga perasaan penuh) bahwa dunia yang tidak sempurna ini telah merombak total tatanan yang diciptakan dengan sempurna.
Mungkin saya termasuk salah satu dari sekian banyak yang jarang mengeluhkan kehidupan single ini. Teman2 berkata saya termasuk yang cuek, dan memang ‘niat’ untuk hidup sendiri. Yang bener aja! Kalau saya memilih untuk tidak mengeluhkan, itu karena memang tidak ada yang terlalu perlu untuk dikeluhkan, buktinya kalau flu saya bisa mengeluh panjang lebar sebab sangat mengganggu kenyamanan saya, kalau kedinginan saya juga gelisah karena saya tidak tahan kedinginan. Namun kondisi di mana saya berada yaitu melajang, bukanlah suatu penyakit atau suasana yang harus membuat saya tidak nyaman.
Teman saya itu lalu bertanya, singleness atau melajang ini, sebuah kutuk atau berkat. Saya menjawab, bukan dua2nya, ini adalah sebuah kondisi dan bagaimana kita mau memandang dan menjalaninya, itulah yang membuat kondisi ini menjadi kutuk atau berkat. Sama saja dimana-mana, menikah juga adalah sebuah kondisi, kita mau menjadikannya sebagai sebuah anugerah yang indah atau membuat pernikahan itu membara atau hambar dan karenanya tidak nyaman atau tidak membahagiakan, tergantung dari bagaimana seseorang menjalaninya, walaupun dalam pernikahan kondisi tersebut menjadi lebih kompleks karena melibatkan dua orang untuk sepakat membentuk dan menjalani kondisi tersebut menjadi seperti apa.
‘Kalo gw ngeliat dari kacamata loe G, kayaknya asyik-asyik aja, tapi kenyataannya ga begitu. Gw pengen kayak teman2 yang lain.’
Saya juga.
‘Gw pengen kayak kakak-kakak dan adik-adik gw.’
Loe pikir gw enggak?
‘Gw merasa being left behind.’
I know that. Ditto.
November 22, 2008 at 4:15 pm
smg cepet “dapet” mba’ ya…Aminn..
-G- to Nyante Aza Lae
(^^,) Dapet apa niy…..?
November 22, 2008 at 9:45 pm
baru sekali ini deh main ke blognya mbak Gati yg ini…. hehe….
November 23, 2008 at 5:21 pm
ikut nimbrung maaf ga ikut keluar walo dah diksh kesempatan hihihi
bener banget tuh pendapat: belom tentu yg nikah tu ga kesepian, bahkan bisa aja pasangan kita ada disebelah kita ..tp kesepian tuh begitu nyata.
kalo boleh urun rembug … apapun hidup yang sedang kita jalani sekarang..mendingan dinikmatin aja…kalo pas susah, jd bersyukur pernah seneng..kl pas seneng..bersyukur ga susah hohoho ..ruwet ya bahasaku .. yah dinikmatin aja hihihihi
November 23, 2008 at 7:50 pm
aahhhh aku bisa paham. Karena sampai sekarang pun saya kerap berpikir, seandainya waktu itu si suamiku yg sekarang ini tidak/belum siap menikah, aku akan hidup single terus. Apa yang salah sih dengan single? Adikku juga masih single. Enak lagi. Cuma satu yang harus dilawan yaitu kesepian. bukan hujatan atau cemoohan orang. Salut mbak -G-
Mbak EM, beruntungnya, berarti mmg line-nya Tom Cruise yang ‘ you complete me’ itu sangat berlaku buat mbak EM (^^,) Saya iri (^_^) Mmg betul, apa yg salah dengan single, ga ada siy, cuma karena kami semua tinggal dalam dunia yg berpasangan, dan (ada saja) org2 yg sudah pny pasangan yg bisa lupa bhw mereka tadinya single, huehuehuee…akhirnya para single dilihat agak aneh, dan ketika yg single pun ketularan merasa dirinya aneh, nah klop deh! Thanks atas supportnya!!!
November 26, 2008 at 1:34 pm
hidup sendiri di lingkungan desaku dulu yg begitu mengagungkan pernikahan tidaklah mudah , terkadang sering orang nggak fair memperlakukan laki-laki ato wanita yg memutuskan utk hidup sendiri dgn memberi cap macem2 yg begitu menyakitkan hati tidak berpikir dulu bagaimana kalau mereka ada di posisi org2 yg msh single itu ….. tapi buatku dulu hidup sendiri di rumah sendiri sungguh sgt berat, banyak org datang mau menitipkan anaknya utk sekedar nginep di akhir wiken ato bahkan menitipkan anaknya utk tinggal bareng dgn aku tanpa tanya dulu aku keberatan apa nggak, belum org2 yg datang mo pinjem uang, dan kalo kutolak selalu ngotot dan beragumen org msh muda, single, punya rumah pasti uangnya banyak krn belum punya banyak kebutuhan , inilah salah satu penyebab kenapa aku ndak kuat hidup sendirian … lho kok ganti curhat di sini El ?
Wah…ini mmg saya alami juga, hehehee… kayaknya mentang2 single trus waktu kita bisa di korting buat oranglain ya? Bener tuh… mereka suka alpa berpikir bhw bisa jadi kita pun punya keinginan utk jalan2 sama teman sendiri dan mengerjakan hal lain yg mmg urusannya kita, iya, itu tuh salah satu ganjelan (^^,) Tapi sy termasuk yg susah diarahkan oleh norma2 masyarakat berpasangan tersebut wakakakaa…. Bisa dimengerti kok mbak Ely, saya kan masih di kondisi sendiri yg telah mbak Ely tinggalkan tsb.. kekekee…jadi silahkan curhat berbagi hati klo baca tulisan ditanggung saya ga ngantuk ~^_^~
November 26, 2008 at 5:18 pm
nimkati masa single selama bisa menikmatinya .. tapi awas jgn kebablasan yak hehehe…
sumhow i think there is a time that you’ll feel tired and and need sumone beside you to complete you.. bukan cuma sekedar teman curhat or ngopi di caffe selagi bosen or sekedar temen jalan..
Ada satu rasa (baca=keinginan) tertinggal yang pengen di miliki that can make you feel COMPLETE
but maybe NO juga seh hhahahaa.. depend on sampai mana ingin hidup sendiri
intinya adalah ada sisi kebahagiaan masing2 in being Single or being DOUBLE, TRIPLE, and so on.. ^halaaaaaaahh^ LoL
November 27, 2008 at 3:15 pm
setuju banget dengan isi paragraf yang ini…
“…singleness atau melajang ini, sebuah kutuk atau berkat. Saya menjawab, bukan dua2nya, ini adalah sebuah kondisi dan bagaimana kita mau memandang dan menjalaninya, itulah yang membuat kondisi ini menjadi kutuk atau berkat. Sama saja dimana-mana, menikah juga adalah sebuah kondisi, kita mau menjadikannya sebagai sebuah anugerah yang indah atau membuat pernikahan itu membara atau hambar dan karenanya tidak nyaman atau tidak membahagiakan, tergantung dari bagaimana seseorang menjalaninya, walaupun dalam pernikahan kondisi tersebut menjadi lebih kompleks karena melibatkan dua orang untuk sepakat membentuk dan menjalani kondisi tersebut menjadi seperti apa.”
jadi bukan masalah single ato ud merit, tapi gimana org ybs menjalani kondisinya itu. dalem banget, jeng!
December 6, 2008 at 5:22 am
Menikah atau tidak itu suatu pilihan…. jangan pernah menikah hanya karena merasa karena orang lain menikah.
Banyak staf saya yang memutuskan lajang, meniti karir, melanglang buana, dan kemudian mengadopsi anak. Karena banyak juga yang menikah dan berakhir perceraian. Yang penting, menikahlah jika memang ketemu yang sesuai hati……(mungkin kalau nggak ketemu suami yang ngotot terus dan meyakinkan menikah lebih baik, mungkin saya termasuk golongan tak perduli menikah atau tidak. Tapi saya suka anak-anak…dan saat itu tak mungkin dong punya anak tanpa menikah…. kalau sekarang teman2 saya bisa adopsi).
Catt: mungkin pendapatku agak berbeda ya, prinsipnya kita menikah jika memang ketemu orang yang cocok…jangan karena terpaksa.