being 40 & cancer

July 16, 2009

ketika saya memasuki usia 30-an, pertengahan, seorang oom dengan penuh kekuatiran memperingatkan kepada saya tentang satu hal: kanker. karena keluarga saya memang rentan terhadap penyakit yang satu ini. pada saat itu, tante saya yang juga tidak menikah, sedang menderita kanker payudara stadium lanjut, stadium 4, dan menurut dokter pengobatan holistik yang menanganinya saat itu, sudah tidak ada lagi harapan kecuali keajaiban.

maka, pada suatu kesempatan selesai menengok tante yang dirawat di sebuah klinik khusus di sukabumi ini, maka, sepanjang perjalanan pulang, saya mendapatkan diri saya diinterogasi dan dinasehati dengan berbagai macam nasehat, plus (menurut saya) sebuah prediksi kelam bahwa nasib saya akan berakhir seperti nasib tante saya yaitu terkena kanker payudara karena saya tidak menikah dan belum pernah melahirkan anak.

ok. saya dapat saja menerima hal itu. karena sebagian argumentasinya adalah benar. resiko terkena kanker memang besar terjadi bagi wanita yang tidak menikah, dan, wanita yang menikah. maksud saya, kanker itu bukanlah penyakit yang pilih2 status. melainkan penyakit yang dikarenakan faktor genetik dan gaya hidup. karena itu berhentilah menakut2i saya agar menikah hanya supaya saya dapat menghindari kanker. please!

yang lebih membuat saya menjadi ngomel2 di dalam hati adalah karena, oom dan tante tersebut, yang saya sadari bahwa bermaksud baik, memiliki seorang anak perempuan yang sudah menikah namun hingga kini tidak juga memiliki keturunan. maksud saya begini loh, kalau argumentasinya adalah saya “pasti” kena kanker karena tubuh saya tidak pernah dipakai sebagai tempat “berkembangbiak” maka bagaimana nasib mereka yang sudah menikah tetapi juga tidak berkembangbiak? hmm…????

dimana, logika?

OK, saya bakalan kedengaran judes sekali kalau seperti ini. namun bukan itu masalahnya. apakah saya judes atau tidak, tidak akan membuat saya kena kanker atau tidak. mungkin darah tinggi dan stroke kalau diteruskan.

masalahnya adalah: mengapa harus memvonis bahwa saya pasti akan kena kanker sih? itu yang membuat saya mau marah, tapi tidak bisa sebab tidak enak juga melawan orang tua yang sakit jantung (kala itu) dan menerangkan pemikiran2nya dengan gaya yang sangat sabar dan telaten, tetapi menohok-hok-hok!

itulah sulitnya berada dalam posisi sudah dewasa tetapi belum dianggap dewasa hanya karena belum melalui suatu periode tertentu. padahal kedewasaan tidak ditentukan juga dari hal yang satu itu. ach… banyak deh cerita tentang being single ini. dan semakin beranjak ke atas, maka semakin juga banyak cerita, ya pastilah… hehe..

eniwei, saya memang mau menuliskan banyak tentang kanker di sini, sebab saya tahu bahwa penyakit itu real adanya, bukan juga penyakit lebay. penyakit itu masih merupakan momok yang telah banyak merengut nyawa baik laki2 maupun perempuan, baik single maupun married. penyakit ini tidak bias jender, dan tidak juga pilih2 status. hmm… kenapa saya jadi lebih respek sama penyakit ini malahan?

this is not a cry for help untuk dicarikan jodoh, for i already know something about this statement: For  I know the plans I have for you, declare the Lord, plans to prosper you, not to harm you, plans to give you hope and a future.  dan juga: be still and know that I am God.

as a christian, i look at everything from a christian point of view, because there’s no other way to see it, that is my faith and also my filter.

hal itu mendasari sebuah perbedaan yang mendasar antara saya dan seorang “kenalan” yang ngotot mencoba berteori mengapa saya tidak juga menikah, mempertanyakan apakah saya pernah melakukan ini dan itu, “menuduh” saya kurang berusaha, etc. bagi saya keterangannya sangat sederhana: dunia ini tidak lagi sempurna seperti di taman firdaus dahulu ketika segala sesuatu berpasang-pasangan dengan sempurna. ketika dosa menjauhkan manusia dari Tuhan-nya maka segala sesuatu yang baik dan sempurna itu menjadi runtuh, termasuk di dalamnya: soulmate.

bagi saya, semakin cepat ia dapat mengunyah bahwa tidak semua orang pasti menemukan jodohnya, maka akan semakin kecil rasa frustrasi yang dialaminya dalam mencermati fenomena “saya” yang single ini diusia yang mendekati separuh abad. saya yang masih saja sendirian ini bukan masalahnya, kalau saja ia mau dan mampu memandang saya sebagai sebuah individu yang berpikir dan merasa, bukan sebagai sesuatu yang tidak lengkap dan sempurna hanya karena saya tidak berstatus nyonya anu atau isterinya si anu.

being 4osomething and single, is not a bad thing. it is just is. kenyataan adalah kenyataan adalah kenyataan adalah kenyataan! dan hal itu yang pertama: HARUS DITERIMA sebagai sebuah kenyataan. kemungkinan bahwa saya tidak akan pernah menikah adalah hal yang tidak perlu menjadikan dia merasa kasihan kepada saya. bagi saya dia harusnya lebih ngeri membayangkan tingkat perceraian dan perselingkuhan yang begitu tinggi dan setiap pernikahan memiliki potensi untuk mengalami perceraian, dan akibatnya semakin banyak orang yang single plus trauma. saya nggak mengatakan bahwa itulah sebabnya saya tidak menikah, hoho, jangan menarik kesimpulan seperti itu, sebab itu salah luarbiasa. maksud saya, janganlah memandang kehidupan saya seperti sebuah lubang hitam tanpa harapan. hidup ga melulu soal menikah ga menikah, hidup itu adalah soal bagaimana memuliakan nama Tuhan apapun kondisi saya. dan saya menolak untuk menyempitkan kehidupan dan kebahagiaan dalam sebuah kotak kondisi sosial yang mau memaksakan pandangan bahwa tidak menikah=tidak bahagia, sebab pada kenyataannya banyak yang menikah tapi tidak bahagia.

so, saya benar2 berharap, kenalan tersebut berhenti menjadi tidak bahagia karena kondisi saya, haha, tapi, haknya juga untuk merasa tidak nyaman.

41

July 16, 2009

June 20, 2009. a new beginning, turning 41 is a new begining, right? yeps, right. i have just realized there is no turning back. something funny about time, it goes on: forward.

Berhubung hari ini entah kenapa blogspot gagal untuk dibuka maka saya memutuskan untuk menulis saja di wordpress, untung juga memiliki banyak blog, karena apabila yang satu tidak dapat dibuka maka masih ada yang bisa menjadi pelampiasan ketika keinginan untuk menulis (lebih tepatnya mengetik) tiba-tiba menyerang dan tidak mau diam barang sekejap juga.

Benar sekali, itulah diriku di tahun 2009 ini, suka sekali menuliskan apapun juga dan tergila-gila dengan ngeblog. mengapa? mungkin di tahun-tahun yang akan datang ketika blog sudah menjadi hal yang sangat biasa atau mungkin bentuknya sudah tergantikan dengan model yang baru (entah seperti apa, saya tak dapat membayangkannya) maka sulit untuk dimengerti kenapa kok demen banget ngeblog, sama seperti waktu dulu di tahun-tahun tujuh puluhan dan awal delapan puluhan ketika telpon masih merupakan hal yang sangat baru maka ada kegairahan khusus ketika menerima telepon, sedangkan sekarang ini ketika telepon bergelimpangan di sana-sini dan sangat murah, kegairahan itu sudah digantikan dengan yang namanya kebutuhan, bukan lagi kesenangan yang dirasakan, debaran-debaran aneh itu malah jadi norak (kampungan) dan hanya milik mereka yang hidup di jaman purbakala, orang-orang modern seperti kita kalau pun tergesa-gesa mengangkat telpon bukan karena ingin mengangkatnya tetapi harus mengangkatnya atau secara spontan mengangkatnya sebab ia sudah merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Bukan pula karena berita yang akan kita dengar atau baca di sms itu adalah berita penting, bukan sama sekali, melainkan karena sudah terbiasa menerima berita apa saja dan berkomunikasi tentang apa saja secara instan.

Perlukah itu? Ya perlu, karena memang sudah seperti itu gaya hidup yang dewasa ini kita jalani (catat ya nak, ini jaman tahun 2000-an). Jaman dahulu, hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai telepon, dan karena itu maka kegiatan bertelepon merupakan semacam keistimewaan bahkan sesuatu yang ‘mahal’. Untuk mendapatkan sambungan telepon pada waktu itu bukan hal yang mudah, dan telepon juga masih memakai operator yang kemudian menyambungkan kepada nomor yang dituju, operator manual ini, bisa menguping pembicaraan telepon kita. BAYANGKAN!

Sekarang ini semua serba digital, serba otomatis dan jumlah pemakai sarana komunikasi ini melonjak sangat tajam dan membengkak dengan cepat karena sarana yang tadinya mahal dan sulit untuk dibawa-bawa kesana kemari, kini menjadi murah dan mobile. Manusia-manusia modern tidak lagi terikat dengan tempat karena sambungan kabel, manusia modern melepaskan dirinya dari tempat karena menggunakan getaran yang tersedia di udara ini, manusia modern itu seperti melayang-layang bebas dari satu ruang ke ruang berikutnya, menembus batasan-batasan yang secara konvensional saya kenal. Harus saya catat juga di sini  bahwa saya hampir lupa bagaimana keadaan sebelum internet ditemukan, juga sebelum telepon selular atau telepon genggam menjamur seperti saat ini. Ya, saya mengalami ‘lupa rasa’ tentang masa-masa tersebut.

Inilah hal yang muncul dikepala saya pagi ini dan ingin saya tuangkan di blog ini, sebagai catatan untuk anak cucu nanti. Hei… blog kan memang sebuah warisan, warisan pemikiran, cerita, opini, kehidupan yang dituangkan dalam kata-kata. Saya sadar betul bahwa saya ngeblog bukan sekedar untuk hari ini dan saat ini, atau untuk mengumpulkan komentar terbanyak atau berlomba supaya pagerank saya naik tinggi, semua itu hanya bonus kecil dari sebuah tujuan yang lebih besar, yaitu sebuah warisan, bahkan bisa dikatakan sebuah surat cinta bagi anak-cucu. Karena saya berpikir bahwa, kalau saja Opa atau Oma saya punya sebuah catatan harian, saya adalah salah satu yang sangat ingin membacanya, saya ingin tahu tentang mereka dan jaman mereka, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka pikirkan, apa yang disukai dan tidak disukainya, opini mereka tentang ini dan itu, bukan kliping2 koran atau potongan berita yang akan benar-benar saya hargai, melainkan kisah mereka, seperti apa siy mereka. Itu yang selalu ada di dalam benak saya.

Satu-satunya yang menyimpan catatan lengkap tentang dirinya dan dengan demikian juga tentang mereka yang berada disekelilingnya adalah tante saya, yang seperti saya adalah seorang diarist sejati, atau penulis diary. Sayangnya, dokumen yang sangat menarik itu tidak dapat saya akses karena sesuatu dan lain hal. Padahal, betapa kayanya catatan itu dengan berbagai hal menarik dan pernak-pernik kehidupan dilihat dari sudut pandangnya. Dan saya kenal tante ini dengan sangat baik untuk tahu bahwa tulisan-tulisannya yang mewakili padangan dan perasaannya tentang berbagai peristiwa sangat patut untuk dibaca. She was an amazing writer, a keen observer with a twist sense of humor.

Maka di sinilah saya menulis blog dan akan terus ngeblog, mencatat apapun juga yang mau saya catat, sehingga suatu saat nanti, ketika ingatan saya sudah tidak sebaik sekarang ini, ketika saya semakin dimakan usia dan bukan seperti saya yang saat ini, maka diri saya sendiri bisa membuka-buka halaman demi halaman digital ini dan kembali menghirup aroma masa-masa ketika hidup baru saja dimulai. Bukankah life begins at 40?

akhirnya..

February 15, 2009

masih menyambung soal mikir-mikir mau diapakan begitu banyak blog yang saya miliki, karena tidak punya ketegaan untuk mengaborsi mereka setelah melakukan aborsi blog beberapa kali dan merasa sangat menyesal sebab ternyata ide-ide memang perlu dituangkan dan it’s OK meskipun berserakan, sebab benang merahnya toh kelihatan juga, bahkan secara tak disadari saling melengkapi satu dengan yang lain, walaupun kadang aneh sekali bahwa kok ada kontradiksi padahal berasal dari satu orang yang meneropong peristiwa yang sama, namun hal itu justru memberi saya pemahaman mengapa keempat injil di dalam Alkitab tidak seragam dalam bentuk penulisannya walaupun esensi-nya sama, itu ternyata sangat beralasan dan justru sangat mengagumkan! hehe, ternyata ngeblog membuat saya lebih memahami kitab suci tercinta. maka saya menyimpulkan bahwa ngeblog ini sehat dan positif, bagi jiwa dan otak saya. ya, saya merasa jauh lebih berbahagia sejak mengenal blog, sejak mampu melepaskan pikiran dalam bentuk tulisan dan menyadari bahwa bukan saya saja yang membacanya, namun saya tidak takut untuk tetap menulis. saya tidak malu. saya memiliki opini yang boleh saya suarakan tanpa harus merasa bersalah dan dalam bahasa yang beradab. sebab saya merasa sebagai manusia yang beradab. dan ternyata kesadaran semacam ini menjadi filter sendiri bagi saya ketika menuliskan sesuatu, saya jadi dapat menahan diri untuk tidak mengobral hal-hal yang terlampau pribadi, mungkin memolesnya dengan bahasa atau susunan kalimat yang sedemikian rupa sehingga ketika membacanya saya tahu bahwa saya berlaku jujur dengan diri sendiri, tanpa mengkompromikan privacy saya. dan hal itu luarbiasa nikmatnya, sebuah seni, setidaknya bagi saya.

akhirnya… saya tahu apa yang akan saya lakukan dengan blog ini. blog ini adalah blog khusus 40 something and beyond. Haha! yups, seputar masalah wanita pada umumnya, dan saya pada khususnya, pergunjingan2 single life and living single, baik yang divorcee, asli lajang, maupun ibu2 RT yang merasa hidup sendiri dalam dunia kerumahtanggaannya, pernak-pernik usia2 matang, yaitu usia yang sedang saya jalani saat ini. apa yang dirasakan oleh perempuan2 di usia 40? lebih tepatnya, apa yang saya rasakan di usia 40 dan menanjak terus pada tahun2 berikutnya tentu saja. banyak yang menyatakan seharusnya menurun, namun saya tidak beranggapan demikian. saya tahu bahwa fisik dan fungsi2nya memang secara alamiah mengalami perubahan, menjadi berbeda dengan waktu2 sebelumnya, namun justru disitulah letak keindahannya, disitulah sebuah petualangan baru mengenali tubuh dimulai, kesadaran bahwa tubuh memiliki keterbatasan sekaligus ranah2 yang tidak pernah ditelusuri sebelumnya ketika usia masih terlalu muda untuk perduli..

Selamat pagi dunia…

Di pagi ini, diiringi derai hujan di luar sana, saya menyadari bahwa hati yang mendua itu ternyata sulit untuk dijalani. Saya cukup kagum dengan mereka yang bisa menjalani sampai berempat berlima berenam, apalagi yang seperti raja Salomo itu yang mampu menjalani sampai beratus (pasangan hidup), OMG, ga terbayangkan betapa membingungkannya membagi diri dan ruang hati untuk sekian banyak manusia, belum lagi pekerjaannya sehari-hari, RAJA gitu loh, dan raja yang arif serta bijaksana pula, KONON kabarnya kan begitu? Dan terbukti memang dari kitab Amsal yang sebagian besar ditulis oleh Salomo dan isinya adalah kumpulan nasihat-nasihat praktis. Mungkin, Salomo memang adalah manusia paling bijaksana yang pernah hidup di dunia ini, namun kebijaksanaan yang dimilikinya ternyata tidak menjamin kebijaksanaan dalam melangkah dan menentukan pilihan dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. MUNGKIN (lagi) hal itu justru terjadi agar dia dapat mencermati di kemudian hari, langkah-langkah yang salah yang pernah dilakukannya dan kemudian menuliskan apa langkah yang seharusnya diambil untuk menghindari kesalahan-kesalahan seperti yang telah diperbuatnya.

Apa hubungannya dengan entri ini? TIDAK ADA.

Saya hanya memutuskan bahwa, mempunyai beberapa blog itu ternyata memang bukan hal yang mudah. Karena itu maka saya sedang berpikir sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu yang ‘bijaksana’ dengan SETIAP blog yang saya miliki. Kalau saya mau berbagi hati, atau lebih tepatnya membagi perhatian, maka saya harus juga membuat beberapa kriteria yang jelas untuk setiap blog. Blog G’s It Personal itu khusus untuk tulisan yang begini, blog G’s Spot untuk yang begitu, cerita2 Jason dan Joshua, nampaknya sudah paling jelas kategorinya, yaitu tentang Jason dan Joshua, celotehan-celotehan mereka, perkembangan mereka, kisah-kisah mereka sehari-hari, dan blog ALLELUIA adalah untuk perenungan2 saya sendiri yang sifatnya pure spiritual.

Nampaknya saya mengkotak-kotakan kehidupan saya dalam beberapa kotak berlabel tertentu. Ada laci khusus untuk hal ini, ada laci yang lain lagi untuk hal itu. Yang pasti G’s It’s Personal jelas merupakan blog yang akan saya update setiap hari. Sedangkan G’s Spot ini, seharusnya menjadi tempat persembunyian saya, hehe.. Tapi persembunyian yang disebarluaskan sendiri namanya jelas bukan sebuah persembunyian dong, gimana siy?

Hmm… saya harus mulai mencari bentuknya. Mungkin saya akan belajar menulis tulisan-tulisan yang berguna di sini? Misalnya ulasan buku, filem, marketing, sosiologi, psikologi, motivasi, kuliner, berita-berita yang menarik perhatian saya, bahkan mungkin saja politik ringan, pokoknya segala sesuatu yang berbentuk dan jelas. Nampaknya, saya harus memberikan bentuk kepada G’s Spot ini, sehingga dimana titik kenikmatannya nampak jelas bagi diri saya sendiri.

Ya, demikianlah pikir-pikir hari ini ditutup.

slow dancing

January 12, 2009

slow dancing inside my heart,
inside my head,
inside my soul
it’s raining hard outside
i wrapped myself inside
this lingering sweet memory
i can feel you here, right now
dancing with me

hush…

and dance with me like we used to do.

Membuka Hari: Telat

January 4, 2009

Iya, saya telat bangun pagi ini untuk ke gereja pagi. Padahal ini hari Minggu pertama di bulan Januari di tahun 2009, dan rencana saya adalah melakukan segala sesuatu dengan ’sempurna’, ternyata? Hh… ini salah satu contoh dari keteledoran, karena semalam sibuk mendiskusikan pekerjaan, jadinya malah keteteran di ibadah. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi kalau saja saya menempatkan segala sesuatu pada tempat yang seharusnya.

Tapi ya sudahlah, sudah terjadi. Berarti hari Minggu ini gagal ibadah pagi, masih ada waktu untuk ibadah sore, jangan sampai yang satu ini juga tidak terlaksana, nah itu namanya kesengajaan!

Jadi ingat artikel tentang awareness, yaitu hidup dengan kesadaraan penuh melakukan segala sesuatu pada saat dan waktu itu. Maksudnya? Maksudnya adalah berkonsentrasi penuh pada saat ini ketika menjalani saat ini.

Misalnya, ketika mencuci piring, maka sadarilah bahwa sedang mencuci piring, lihat baik-baik piring yang sedang di cuci, nikmati gelembung-gelembung sabunnya, gosok dengan benar bagian-bagian yang kotor hingga kinclong piring itu, lalu bilas bersih-bersih, letakkan di tempat pengering, dan selama melakukan hal itu, nikmatilah saat-saat itu tanpa sibuk memikirkan setrikaan atau cucian yang belum dijemur misalnya, karena toh kita tidak bisa juga melakukan dua hal atau tiga hal pada saat yang bersamaan. Begitu intinya.

Nah, saya harus belajar melakukan hal itu, hidup dengan kesadaran penuh dan hadir dengan kehadiran penuh. Saya harus berhenti melakukan hal-hal ini: menulis blog sambil blogwalking dan ceting di YM misalnya, hahahaaa… Atau, membaca sambil sekaligus menonton filem dan membuka sebuah situs di internet. Atau makan malam dengan teman-teman sambil juga sibuk dengan hape di tangan mengecek fesbuk atau blog. Karena, setelah sampai di rumah atau dipenghujung hari sewaktu mau tidur dan kembali merenungkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari dalam hidup saya, maka saya seringkali merasa tidak melakukan apa-apa. Blank. Nothing. Nada. Saya melakukan semuanya sekaligus, seakan menelan tanpa mengunyah dan merasai, glep glep glep, dan ketika ditanya apa rasanya, bagaimana rasanya, saya tidak bisa menjelaskannya, sebab saya memang tidak pernah merasakan atau menikmati hanya menjalaninya saja.

Maka saya tidak mau lagi jatuh pingsan selama hidup ini berjalan. Haduh apa pula ini? Maksudnya, saya tidak mau lagi hidup dengan kesadaran yang minim tentang apa yang sedang saya lakukan. Saya ingin ketika berkontemplasi pada saat-saat menjelang tidur, saya bisa menemukan jejak-jejak saya hari itu dan menghitung serta mengevaluasi kembali dengan jernih apa yang sudah saya lakukan tanpa merasa bingung sendiri apakah saya benar-benar sudah melakukannya.

Hmm… bagaimana ya caranya?

Mulai Sembuh

December 12, 2008

Ternyata saya mulai sembuh. Sembuh dari apa? tanya saya kepada diri sendiri. Sembuh dari rasa sakit tentu saja, memangnya apa lagi? Ya iya lah, pasti sembuh dari rasa sakit, tapi rasa sakit karena apa? Saya tidak mau mengatakannya. Yang pasti saya mulai merasa sembuh, dan untuk itu ada seseorang yang telah membantu saya. Ajaib bahwa pertemuan yang tidak pernah direncanakan dan diduga-duga ternyata punya efek luarbiasa bagi saya. Saya juga tidak menyangka bahwa akan ada pertautan rasa yang menakjubkan. Saya tidak pernah mengira.

Apa ini namanya? Yang pasti pertautan jiwa itu ada. Kata-kata yang mengalir begitu mirip. Dan kadang-kadang sangat lucu bahwa kami sama-sama mengatakan hal yang sama. Seharusnya hal ini terjadi pada orang yang sudah lama saling mengenal. Dalam kasus yang saya alami, hal itu terjadi sangat premature, sangat awal, sangat mengherankan.

Lalu, bagaimana dia menolong saya untuk sembuh, atau setidaknya mulai sembuh? Dengan memperlihatkan kepada saya bahwa tidak perlu takut untuk  ‘merasakan’. Ada sesuatu dalam caranya yang membuat saya berani menengok ke belakang dan mengevaluasi kembali secara perlahan-lahan jalan-jalan yang pernah saya tempuh dalam ranah rasa. Saya menelusuri tikungan-tikungannya, setiap kontur yang membentuk tanahnya, setiap jejak yang pernah ditapakkan. Dan saya merasakan kehidupan lagi di sana. Ya, tepat di tengah-tengah pusat dari segala rasa yang pernah saya tekan dalam-dalam itu, saya justru merasakan kembali detak nadinya, ada darah yang saya biarkan lagi mengalir, ada nafas yang saya tarik dan keluarkan kembali.

Dikatakan bahwa, setiap orang memiliki pasangan jiwanya. Mungkin bukan pasangan secara romantis, atau ikatan pernikahan, hanya pasangan jiwa, yang begitu mirip dan serupa, hampir-hampir seperti melihat gambaran diri sendiri. Bisa jadi itu ada dalam diri seorang sahabat, seorang kekasih, seorang suami, seorang isteri. Saya hampir-hampir percaya bahwa ini adalah  jiwa yang begitu mirip dengan jiwa  saya.

Hmm….Mungkinkah?

Saya suka berandai-andai, namun dalam sekali peristiwa ini, saya tidak mau melongok terlalu jauh ke dalam tanda tanya dan kemungkinan-kemungkinan. Saya mau belajar untuk menerima bahwa segala sesuatu yang nampak adalah as it is, or just is, tanpa perlu menebak-nebak apakah ini, apakah itu.  Saya hanya mau bersyukur bahwa saya mengalaminya. Bahwa pada sebuah titik tertentu ketika saya berpikir bahwa hidup dan hati saya akan selalu diplester dalam kungkungan sebuah luka, ternyata ada orang yang membantu saya membuka plester itu dan melihat bahwa luka saya ternyata sudah mengering.

Saya, amat sangat beruntung. Terimakasih (^_^).

Being Left Behind

November 22, 2008

TIba-tiba teman saya telpon, ‘Lagi ngapain loe?’ Nah biasanya kalo dia menanyakan lagi ngapain loe seperti itu berarti dia akan curhat. Saya hafal sehafal-hafalnya ‘body-language’ bahasanya dia (istilah apa pula ini?), karena sesudah berteman sekian tahun, menjalani sekian banyak konflik (dalam hidupnya–sebab hidup saya bebas konflik, yaiiiy!) maka bisa dikatakan, dia sudah kartu mati ditangan saya (^^p).

‘Ga sedang ngapa-ngapain kok, loe tau lah gw kalo ga ada para kurcaci ya bengong aja. Knape bu?’ Mendapat lampu hijau, yang berarti at-your-service-ALL-DAY, atau lebih tepatnya telingaku-adalah-milikmu-sampai-lengket-di-speaker-phone-ini tersebut, maka meluncurlah curahan hatinya. Dan saya mendengarkan dengan baik, sekali-sekali menggigit bibir karena ingin berkomentar tetapi saya tahan-tahan, sampai akhirnya yang diujung sana berkomentar, ‘G, loe masih hidup atau sudah tidur? Jangan-jangan loe ninggalin telpon kebuka en loe sedang nyuci piring sembari gw cuap-cupa, Woooiyy!!’

Hahahahahaaa! Soalnya memang itu pernah terjadi! Ada juga yang orangnya asyik cuap-cuap saya ketiduran. Pesan moralnya adalah: jangan telpon saya lama-lama dong. SEBAB, telinga saya memang kuat dan tidak akan lari-lari dari kedua sisi kepala, tapi mata saya ini loh yg cepat shut-down (wide open?), begitu juga otak saya dan pikirannya yang suka lari kemana-mana.

(^^,)

Ok-lah saya memang bersalah, tetapi kan bisa jadi penghiburan bahwa, karena suaranya terlalu merdu di telinga sehingga menjadi musik yang mengantar saya tidur… Ya kan? Ya kan?

Eniwei, setelah teman saya tahu bahwa saya masih setia mendengarkan radio Curhat FM 007-nya maka dia pun melanjutkan ceritanya. Inti keluhannya sebenarnya tidak jauh-jauh dari kehidupan kami para single–mohon yang sudah menikah tunjuk tangan dan keluar dari ruangan, saya beri waktu 5 menit, heheheheeee….

Apa siy yang dikeluhkan para single. Saya menolak kata ‘jomblo’–apa pula maksudnya kata itu siy? Jomlo–yep tanpa huruf b bo’, JOMLO,  kalau di Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai gadis tua. Sudah tua kah dirikyu? Beluuum. Karena itu saya menolak juga kata jomlo. Haha! Se bodo teuing. Kata single atau lajang, itu lebih tepat dan bermartabat. Karena memang pada kenyataan dalam kehidupan orang2 tanpa pasangan hidup adalah manusia yang menjalani kehidupan single, melajang, dan tidak harus berarti sendirian atau sepi, ga selalu begitu. Sedangkan mereka yang berpasangan, tidak sedikit yang merasa kesepian dan sendirian dalam kehidupan bersamanya. Nah loe kenapa juga saya mulai ngelantur?

Saya ngelantur karena keluhan dari teman saya adalah kerinduan untuk segera mendapatkan pasangan hidup. ‘Tidak tinggi-tinggi kok, G,’ katanya sambil menarik nafas panjang, ‘yang penting sayang sama gw, dan mapan, yah punya rumah sendiri deh. Gw capek juga sendirian.’

Capekkah hidup sendirian itu? Saya bertanya kepada diri sendiri. Jawabannya adalah, YA! YA! YA! tapi–ada tapinya, capeknya hidup sendirian itu terjadi setiap kali saya melihat kepada tetangga sebelah yang hidup berduaan, setiap kali saya melihat mereka saya merasa capek. Capek memikirkan, kapan ya saya seperti itu, akan adakah hari-hari seperti hari-hari mereka?

Namun, setiap kali saya melihat tulisan seperti: ‘kita tidak dapat hidup sendiri’, saya menggelengkan kepala. Kita dapat hidup sendiri kalau kondisinya mengharuskan begitu atau terpaksa menjalaninya seperti itu atau memilih seperti itu, namun kita tidak didisain untuk hidup sendirian karena itu dalam relung yang paling dalam selalu terdapat kerinduan untuk ‘disempurnakan’ seperti yang dikatakan Tom Cruise kepada Renee Zellweger dalam Jerry Macguire, ‘I love you. You complete me…’ Dan jawaban Renee Zellweger, ‘Shut up. Just shut up…..You had me at hello. You had me at hello.’ Titik inilah yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang–termasuk yang sedang mengetik kata-kata ini.

Ada suatu tempat di pusat rasa yang menunggu untuk menjadi satu bulatan penuh. Namun (lagi2 si Namun muncul neh), saya memiliki kesadaran penuh (yg tidak harus sepakat denga perasaan penuh) bahwa dunia yang tidak sempurna ini telah merombak total tatanan yang diciptakan dengan sempurna.

Mungkin saya termasuk salah satu dari sekian banyak yang jarang mengeluhkan kehidupan single ini. Teman2 berkata saya termasuk yang cuek, dan memang ‘niat’ untuk hidup sendiri. Yang bener aja! Kalau saya memilih untuk tidak mengeluhkan, itu karena memang tidak ada yang terlalu perlu untuk dikeluhkan, buktinya kalau flu saya bisa mengeluh panjang lebar sebab sangat mengganggu kenyamanan saya, kalau kedinginan saya juga gelisah karena saya tidak tahan kedinginan. Namun kondisi di mana saya berada yaitu melajang, bukanlah suatu penyakit atau suasana yang harus membuat saya tidak nyaman.

Teman saya itu lalu bertanya, singleness atau melajang ini, sebuah kutuk atau berkat. Saya menjawab, bukan dua2nya, ini adalah sebuah kondisi dan bagaimana kita mau memandang dan menjalaninya, itulah yang membuat kondisi ini menjadi kutuk atau berkat. Sama saja dimana-mana, menikah juga adalah sebuah kondisi, kita mau menjadikannya sebagai sebuah anugerah yang indah atau membuat pernikahan itu membara atau hambar dan karenanya tidak nyaman atau tidak membahagiakan, tergantung dari bagaimana seseorang menjalaninya, walaupun dalam pernikahan kondisi tersebut menjadi lebih kompleks karena melibatkan dua orang untuk sepakat membentuk dan menjalani kondisi tersebut menjadi seperti apa.

‘Kalo gw ngeliat dari kacamata loe G, kayaknya asyik-asyik aja, tapi kenyataannya ga begitu. Gw pengen kayak teman2 yang lain.’

Saya juga.

‘Gw pengen kayak kakak-kakak dan adik-adik gw.’

Loe pikir gw enggak?

‘Gw merasa being left behind.’

I know that. Ditto.